Mulianya Profesi Guru

Written by M Priyanto on .

oleh : H. Ir. Abdulkadir M. Baradja (Ketua Pengurus YPAS)

Bismillaahirrahmaanirrahiim

“ Tegakkan agama dalam dirimu, maka akan tegak agama ini di muka bumi,....

A.         Mulianya Profesi Guru

Seorang berilmu kemudian bekerja dengan ilmunya dialah dinamakan orang besar di bawah kolong langit ini. Ia bagai matahari memberi cahaya orang lain sedang ia sendiripun bercahaya. Ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain iapun sendiri harum (Imam Ghozali).

 

Profesi guru merupakan profesi yang paling mulia dan paling agung dibanding yang lain. Dengan profesi itu guru menjadi perantara antara manusia dan penciptanya, Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau kita renungkan, tugas guru itu seperti halnya tugas para utusan Allah. Kesakralan seorang guru, bukan karena ilmu dan tingkah lakunya,  tetapi kedudukan dan posisi yang tinggi itu karena guru menjadi fasilitator atau perantara turunnya keberkahan dan ilmu dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Guru harus mulia dan harus dimuliakan. Oleh karenanya guru harus selalu menyempurnakan, mengagungkan dan menyucikan kalbunya agar dekat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Keutamaan orang alim dibanding hamba bagaikan keutamaaanku atas orang yang paling rendah di antara kamu. Sesungguhnya Allah, malaikat-malaikatnya, penduduk langit dan bumi, sampai kepada semut dalam lubangnya serta ikan di laut benar-benar mendoakan kebaikan kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR. Thirmidzi).

 

B.         Menjadi Guru Tidaklah Mudah

Rasulullah sebagai guru pertama di dalam Islam, bertugas membacakan, menyampaikan dan mengajarkan ayat-ayat Allah (Al-Qur’an) kepada manusia, menyucikan diri dan jiwa dari dosa, menjelaskan mana yang halal dan mana yang haram, serta menceritakan tentang manusia di zaman silam, mengaitkan dengan kehidupan di zaman yang akan datang.

Tugas guru dalam proses belajar mengajar berfungsi sebagai :

1.            Motivator (pendorong)

2.            Reinforce (pemberdaya)

3.            Instruktur (pelatih)

      Seorang guru/ pendidik bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pelajaran kepada murid, tetapi juga membentuk kepribadian mereka sehingga bernilai tinggi. Guru adalah orang yang menunjukkan jalan mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, selayaknya guru memusatkan perhatian dan tenaganya untuk mencapai tujuan ini, baik sewaktu mengajar ilmu agama maupun ilmu-ilmu keduniaan.

        Interaksi belajar mengajar antara murid dan guru dalam dunia pendidikan dewasa ini kurang mendapat perhatian dari semua pihak. Penyebabnya adalah guru sering tidak mampu tampil sebagai figur yang pantas diteladani di hadapan murid, apalagi berperan sebagai orang tua. Karena itu, sering kali guru dipandng dan dinilai oleh muridnya tidak lebih hanya sebagai orang lain yang bertugas menyampaikan materi pembelajaran karena dibayar.

        Bagaimana seorang guru dapat membawa, mengarahkan, membimbing dan menunjukkan muridnya kepada pendewasaan diri sehingga menjadi manusia yang mandiri dan bertanggung jawab ? oleh karena itu, wahai guru, perhatikan segala persyaratan profesimu, perankanlah dirimu di hadapan anak didikmu sebagai orang tua, junjung tinggilah tugas muliamu, jangan sampai lengah menanamkan nilai kepada muridmu.

       Dalam kegiatan mengajar, seorang guru hendaknya menggunakan cara yang simpatik, halus, tidak menggunakan kekerasan, cacian, makian dan sebagainya. Dalam hubungan ini seorang guru hendaknya jangan mengekspos atau menyebarluaskan kesalahan/ kekurangan muridnya di depan umum, karena cara itu dapat menyebabkan anak didik memiliki jiwa yang keras, menjadi menentang, membangkang dan memusuhi gurunya. Hal ini dapat menimbulkan situasi yang tidak mendukung terlaksananya pengajaran yang baik.

       Dari sini semakin tampaklah bahwa profesi guru sangat menentukan hidup suatu bangsa. Kejayaan atau kehancuran suatu bangsa boleh dikatakan sangat tergantung pada keberadaan guru-guru yang membidani lahirnya generasi muda. Seorang guru hendaknya pandai dalam mendorong muridnya.

 

C.        Guru Berperan Penting Sebagai Seorang Pendidik

                Pendidikan dalam perspektif Islam mempunyai peranan penting, sebab dialah yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan seluruh potensi anak didik, baik potensi efektif, kognitif maupun psikomotoriknya. Lihatlah sikap para guru Jepang, perhatian mereka sampai ke totalitas kehidupan murid mereka.

Tugas pendidik/ guru setidaknya mencakup 3 hal :

1.            Sebagai pengajar (instruksional) yang merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun serta mengakhiri dengan pelaksanaan penilaian setelah program dilakukan;

2.            sebagai pendidik (edukator) yang mengarahkan anak didik pada tingkat kedewasaan yang berkepribadian insan kamil seiring dengan tujuan Allah menciptakannya;

3.            Sebagai pemimpin (managerial) yang memimpin, mengendalikan diri sendiri, anak didik dan masyarakat terkait yang menyangkut upaya pengerahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan dan partisipasi atas program yang dilakukan.

 

Dalam pelaksanaan tugas itu seorang pendidik dituntut mempunyai seperangkat prinsip keguruan. Prinsip keguruan itu terdiri dari :

a.             Memperhatikan kesediaan kemampuan, pertumbuhan dan perbedaan anak didik;

b.            Membangkitkan gairah anak didik;

c.             Menumbuhkan bakat dan sikap anak didik yang baik;

d.            Mengatur proses belajar mengajar dengan baik;

e.            Memperhatikan perubahan kecenderungan yang mempengaruhi proses belajar mengajar.

 

Akhirnya memang kualitas guru sebagai seorang pendidik berperan penting dalam membentuk siswa didiknya menjadi orang yang berkualitas, berilmu memadai dan mampu mandiri. Karenanya, bagaimana meningkatkan kualitas guru sehingga kreatif, inovatif, produktif dan penuh pengabdian dalam menjalankan tugas/ fungsinya.

 

D.         Guru Adalah Pemimpin Sekaligus Teladan

Uqbah bin Abi Sofyan berkata pada guru anaknya : ”Sebelum engkau memperbaiki anakku, maka pertama kali kamu harus memperbaiki dirimu sendiri, sebab pandangannya masing sangat terikat dengan pandanganmu. Jadi ukuran baik menurut dia adalah apa yang baik dalam pandanganmu. Demikian pula sebaliknya, yang jelek dalam pandangan dia adalah yang jelek menurutmu”.

Kita tahu bagaimana seharusnya seorang guru membawa diri dalam pergaulan setiap hari, serta hal-hal yang tidak diperbolehkan untuk dia demi menjaga identitasnya sebagai pemimpin dan teladan di tengah-tengah orang lain.

Guru dikatakan ”orang lain” karena bukan saja menjadi teladan bagi anak didiknya tetapi bagi semua orang yang setiap hari bergaul dengannya. Dalam pengertian ini guru bukan saja pengajar dari jam sekian sampai jam sekian berdiri di depan kelas. Lebih dari itu, guru adalah tokoh teladan yang akan memberikan contoh lewat setiap tindakannya kepada orang lain. Jadi guru sebagai teladan ini bukan saja memainkan peranannya dalam batas waktu dan ruang yang tertentu. Jauh lebih dari itu ia harus senantiasa memainkan peranannya dalam satu lingkungan yang lebih besar dan variatif. Tugas ini harus disandangnya setiap saat kemana saja ia pergi.

Mengenai tugas guru sebagai pemimpin ini, Presiden Soekarno pernah menulis : ”Pemimpin! Guru! Alangkah hebatnya pekerjaan menjadi pemimpin di dalam sekolah, menjadi guru di dalam arti yang spesial, yakni menjadi pembentuk akal dan jiwa anak-anak!”. Benar! Karena, guru yang pemimpin ialah dia yang memiliki kemampuan-kemampuan khusus untuk membentuk watak-watak kepribadian orang lain. Guru yang memimpin adalah dia yang selain mahir mengajar ilmu pengetahuan kepada anak-anak didiknya, juga yang dengan cara-cara tertentu dapat mempengaruhi orang lain untuk menjadi lebih baik, menjadi lebih manusiawi dalam arti yang khas. Karena, pendidik ialah orang yang hendak memanusiakan manusia muda.

Sejalan dengan ini, seorang guru yang memimpin ialah dia yang dengan bakat-bakatnya yang istimewa sanggup menunjukkan apa-apa yang baik dalam diri orang lain. Pekerjaan semacam ini tidaklah selalu mudah. Ada guru yang bisa mengajarkan segala macam ilmu pengetahuan kepada orang lain, tetapi belum tentu sanggup mengatakan kepada orang lain tentang kemungkinan-kemungkinan yang baik dalam diri mereka serta mengatakan bagaimana mereka dapat memanfaatkan fungsi-fungsi kehidupannya dengan lebih berguna. Iapun bisa mengajar orang sampai mencapai taraf kepintaran tertentu. Tetapi, belum pasti ia juga sanggup mendidik murid-muridnya menjadi lebih baik menurut kriteria moral objektif tertentu.

Setiap guru wajib mengetahui keutamaan-keutamaan apa saja yang perlu ia miliki sebagai seorang pemimpin yang setiap saat harus berhadapan dengan anak-anak didiknya yang lebih banyak belajar bukan dari mendengar dan menghafal, tetapi dengan melihat dan mencontoh hidup si pemimpin.

Presiden Soekarno dalam tulisannya menandaskan ”orang tidak bisa mengajarkan apa yang ia inginkan, orang tidak bisa mengajarkan apa yang ia tahu, tetapi orang hanya mengajarkan tentang siapa dia sebenarnya. Seorang guru mengajarkan apa yang dianggap baik untuk anak didiknya. Tetapi kalau cuma sampai disini, tentu saja belum cukup. Guru belum melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin dan pendidik. Satu langkah lagi yang harus dilaksanakan, ia sendiri harus melaksanakan perbuatan-perbuatan baik yang diajarkannya.

Guru yang pemimpin mempunyai kewajiban moral yang rupanya jauh lebih penting dari kewajiban yuridis mengajar tadi yaitu melaksanakan pekerjaan-pekerjaan baik yang telah diajarkan. Contoh seperti ini bagi anak didik tidak saja dilihat sebagai suatu yang baik untuk ditiru, tetapi lebih jauh dari itu mereka bisa melihat apa yang diajarkan gurunya tidak saja baik untuk mereka tetapi juga baik untuk guru itu sendiri. Keyakinan akan kebaikan dari apa yang diajarkan itu semakin bertambah kalau mereka sendiri menyaksikan bahwa yang mengajar mereka dan mengerjakan apa yang diajarkan, hidupnya baik, dihormati, serta disegani dalam masyarakat. Inilah arti terdalam dari kata-kata singkat itu ”guru mengajarkan tentang siapa dia sebenarnya dan tentang kepribadiannya sendiri”.

Seorang guru harus selalu menjadi perantara dari para murid dengan dunia luar. Seorang guru harus senantiasa belajar. Guru yang berhenti belajar sebenarnya tidak layak lagi menjadi guru. Bila seorang guru berhenti belajar, maka sejak saat itu pula ia memutuskan hubungannya dengan seluruh proses pendidikan. Jadi, guru yang pemimpin harus senantiasa belajar menimba pengetahuan-pengetahuan baru, terutama untuk memperkaya kepribadiannya dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang baru. Ilmu pengetahuan itu senantiasa berkembang dan sekali berhenti belajar, maka akan ketinggalan dalam begitu banyak hal.

Dalam hal ini guru adalah agen pengetahuan-pengetahuan baru untuk anak didiknya dan akan menjadi ”buku pelajaran”  yang paling laris untuk menjadi murid-muridnya. Dia adalah ”kitab kehidupan” yang senantiasa terbuka dan siap dibaca oleh anak didiknya. Hanya dari guru-guru semacam inilah kita bisa mengharapkan lahirnya manusia-manusia yang bermutu.

Ada banyak guru yang sangat sederhana tingkat pengetahuannya, tetapi mampu mendidik orang-orang cemerlang. Coba lihat guru-guru kita dahulu. Pengetahuan umum mereka rata-rata minim, tetapi siapa bisa menyangkal bawa justru dari guru-guru inilah muncul orang-orang besar yang kini sedang meraih berbagai sukses. Ini terutama berkat kemampuan kepribadian mereka yang kaya. Padahal kalau kita betul jujur, begitu banyak guru dari angkatan-angkatan kemudian yang mempunyai tingkat pengetahuan yang tinggi-tinggi, malah menghasilkan bandit-bandit.

Dalam versi yang lebih tajam, barangkali kita juga bisa mengatakan bahwa guru yang mempunyai kepribadian baik akan melahirkan manusia-manusia yang berkepribadian baik. Guru-guru yang tidak mempunyai kepribadian baik akan melahirkan manusia-manusia yang lebih kerdil dari dirinya sendiri. Guru-guru yang kurang tertib akan menurunkan gembong-gembong yang tidak tahu aturan dan tidak tahu menghargai waktu. Guru-guru yang kasar akan melahirkan figur-figur yang berperasaan tumpul serta tidak tahu menghargai kebaikan.

Guru-guru yang suka berbohong akan menurunkan manusia-manusia yang tidak pernah mengerti apa arti kejujuran. Dan guru-guru yang senang memilih muka dalam tindakan-tindakannya akan mewariskan kelompok-kelompok yang tidak pernah menghargai keadilan serta menghormati hak orang lain.

Begitu pula guru-guru yang suka bekerja dan mengajar secara tidak teratur akan melahirkan manusia-manusia yang tidak tahu bekerja menurut rencana. Guru-guru yang suka bicara dan berkelakar kotor serta tidak senonoh di depan murid-muridnya akan melahirkan manusia-manusia yang tidak memiliki cara pikir yang ilmiah, mereka berfikir santai dengan akibat sampingnya menjurus ke manusia bermental ”easy going” atau suka cari gampang saja.

Demikian pula guru-guru yang tidak pernah memaksa muridnya bekerja keras, akan melahirkan manusia-manusia konsumtif tingkat tinggi, yang senangnya hanya menikmati apa yang sudah ada tanpa berusaha menghasilkannya sendiri. Mereka akan kehilangan gairah berprestasi, apalagi berkreativitas. Yang menjadi akar masalah barangkali bukan masalah sistem dan kelembagaan, tetapi lebih diakibatkan oleh masalah batiniah manusianya.

Guru adalah pemimpin. Dialah yang membangkitkan daya-daya dalam diri anak didiknya. Daya-daya itu masih tidur dan belum berfungsi sebagaimana mestinya. Pendidikan yang salah bisa saja memberi bentuk yang salah pada potensi-potensi yang ada itu, dan itu berarti deviasi fungsi, karena salah bina atau salah membentuk. Gurulah yang mempunyai tugas. Gurulah yang bertanggung jawab untuk memberi bentuk yang tepat pada fungsi-fungsi tadi. Memberi bentuk yang tepat berarti fungsi yang tepat dan sesuai dengan hakekat dasarnya.

Guru sebagai pemimpin harus sanggup mengarahkan seluruh cita-cita dan tujuan hidup anak didiknya. Orang tidak bisa menentukan dengan pasti kemana arah pendidik berjalan. Karena itu seorang guru yang benar-benar memimpin perlu memiliki falsafah dan ideologi pendidikan yang jelas sehingga tahu persis kemana anak-anak didiknya akan dibawa. Lebih lanjut untuk hal di atas seorang guru harus mempunyai kewibawaan, sehingga mudah ditaati dan diteladani. Tanpa kewibawaan seorang guru bakal menjadi permainan anak-anak. Wibawa disini bukan dalam arti ia disegani karena tegas dan disiplin saja, tetapi juga karena mutu pelajaran yang diberikannya dan mutu seluruh kepribadian yang mewarnai profesinya sebagai guru dan sebagai orang yang patut ditaati dan diteladani.

Selain itu guru harus jujur, ia harus mengajarkan hal-hal yang benar kepada muridnya, tidak berusaha untuk menipu mereka dengan pengetahuan dan kepandaiannya. Termasuk dalam kejujuran seorang guru ialah keterbukaannya kepada murid tentang sebab keterlambatan alasan mengapa ia tidak masuk kelas. Mengenai masalah kejujuran ini mungkin kita bisa menengok keberhasilan dakwah Nabi Muhammad  dalam menyebarkan agama Islam.

Sebagaimana kita ketahui bahwa sebelum mengemban tugas penyebaran agama Islam itu, yang paling pertama dan utama beliau tunjukkan kepada masyarakat jahiliyah adalah citra dirinya sebagai seorang yang kredibel, seorang yang pantas dipercaya atau ”al-amin”. Kredibilitas yang memancar dari kepribadian Rasulullah  merupakan citra diri yang menyedot kepercayaan dan mempesonakan para pengikutnya. Kejujuran dan keberaniannya mempertahankan prinsip, merupakan mahkota kepemimpinan beliau sehingga mampu mengubah masyarakat yang biadab menjadi beradab. Masyarakat yang dalam kegelapan disinari dengan pelita akhlaq sehingga mereka menjadi masyarakat yang mengubah wajah peradaban.

Sebelum perintah sholat, sebelum ayat al-qur’an turun, sebelum ajaran Islam didakwahkan, langkah sejarah yang beliau hamparkan adalah membangun citra jujur, ”al-amin” orang yang paling pantas dipercaya. Strategi seperti inilah yang barangkali perlu ditiru oleh para guru agar sukses bila ingin mengubah ”wajah” para murid-muridnya. Guru yang berbakat sebagai pendidik selain mereka mudah menguasai bidang yang diajarkan, insya Allah juga akan memiliki kewibawaan yang cukup sehingga murid dan masyarakat sekitar akan menghormatinya walaupun dia tidak menyatakan diri sebagai seorang guru.

Demikian pula dalam menyampaikan materi pelajaran, tentu akan mudah dicerna dan dipahami oleh murid-muridnya. Lebih dari itu baik perkataan maupun perbuatannya benar-benar bisa menjadi contoh yang patut diteladani bagi murid-muridnya. Hendaklah guru mengamalkan ilmunya, jangan perkataannya membohongi perbuatannya atau sebaliknya.

 

E.         Beberapa cara membentuk guru yang profesional

Menurut Presiden Soeharto tentang betapa pentingnya peranan guru dalam mencerdaskan dan memajukan bangsa, para guru harus meningkatkan kemampuan profesionalnya terus menerus. Menurutnya, guru profesional adalah guru yang benar-benar menyadari peran dan tanggung jawab yang dipikulnya. Dengan bertambah majunya kehidupan masyarakat, maka makin besar pula tuntutan peningkatan profesionalisme guru.

Bertambah derasnya arus informasi akan mempermudah masyarakat, termasuk anak didik, untuk memperoleh pengetahuan yang diinginkannya. Oleh karena itu para guru juga dituntut untuk memiliki informasi yang makin banyak dan makin luas agar tidak tertinggal dengan arus perkembangan masyarakat.

Dewasa ini guru bukan hanya sebagai seorang tokoh yang berdiri di depan kelas untuk mengajarkan berbagai macam pelajaran, melainkan harus membentuk anak didik agar mempunyai ”akhlaqul karimah”. Dalam era globalisasi ini guru dituntut agar memiliki wawasan yang cukup luas dalam berbagai segi yang merupakan cerminan dari profesionalisme tadi.

Lantas, bagaimana caranya membentuk guru yang profesional ini? Atau, bagaimanakah caranya supaya guru-guru yang belum profesional bisa menjadi profesional, sementara yang sudah profesional menjadi lebih profesional lagi.

Ada 4 program yang dapat dikembangkan dalam rangka pembentukan guru profesional yaitu :

1.       Pre service education;

2.       In service education;

3.       In service training;

4.       On service training.

Pre service education dapat dilakukan dengan cara peningkatan kualitas masukan (input) calon guru. Sedangkan in service education dapat dilakukan dengan memotivasi para guru yang sudah mengajar agar dapat memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, misalnya perlu lebih dimantapkan agar semua guru dapat kesempatan yang sama dan diberikan kemudahan-kemudahan untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi.

Adapun in service training harus dilakukan dengan memperbanyak penyelenggaraan, pelatihan, penataran dan seminar-seminar. Materi latihan juga perlu dipertajam ke arah yang lebih teknis operasional. Salah satu tugas guru dalam melakukan pengembangan profesi adalah penulisan karya ilmiah dan karya tulis di bidangnya. Untuk ini perlu ada pelatihan tentang hal tersebut. Ada kalanya para guru dalam mengajar sering menemui permasalahan.

Keadaan yang demikian mengharuskan adanya program yang disebut on service training yaitu kegiatan yang dapat dilakukan dengan mengadakan pertemuan berkala dan rutin di antara para guru yang mempunyai bagian yang sama sehingga terjadi tukar pikiran di antara para guru itu dalam mencari alternatif pemecahannya.

Guru yang baik adalah guru yang bisa mengajar dan membimbing murid-muridnya sehingga memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi zamannya. Karena itu guru harus bisa berkembang sesuai dengan fungsinya untuk mencapai tujuan pendidikan. Lebih-lebih dalam sistem sekolah sekarang masalah pengetahuan, kecakapan dan keterampilan tenaga pengajar perlu mendapat perhatian serius. Bagaimanapun baiknya kurikulum, administrasi dan fasilitas perlengkapan, kalau tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas gurunya, tentu tidak akan membawa hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, peningkatan mutu tenaga-tenaga pengajar untuk membina tenaga-tenaga guru yang profesional adalah unsur yang paling penting bagi peningkatan kualitas pendidikan.

Guru harus bertanggung jawab atas hasil kegiatan belajar anak melalui interaksi belajar mengajar. Guru merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya proses belajar mengajar. Karena guru harus menguasai prinsip-prinsip belajar, disamping menguasai materi yang akan diajarkan. Guru harus mampu menciptakan situasi dan kondisi lingkungan belajar yang sebaik-baiknya. Dengan kondisi lingkungan belajar yang baik tersebut insya Allah akan menjadikan murid-murid sebagai ”sang juara”. Dengan lingkungan belajar yang baik tersebut guru lebih mudah mengembangkan dan mempertahankan sikap juara yang akan menghasilkan murid yang lebih berhasil.

 

F.         Hubungan guru dan murid

Keakraban guru dan murid ini janganlah ditafsirkan sebagai melunturnya kewibawaan guru. Kewibawaan guru akan bisa menguat saat pemahaman siswa terhadap sang guru utuh. Membangun kewibawaan bukan berarti menciptakan ketakutan atau kesungkanan.

Kesiapan guru dalam mengajar dan memperhatikan kebutuhan siswa adalah merupakan kunci pokok untuk membangun kewibawaan guru. Karena itulah kewibawaan tidak bisa dipisahkan dengan penciptaan hubungan batin dan kasih sayang humanitis antara guru dan siswa.

Mengapa siswa berani memprotes guru, atau guru tega memukul murid, tidak lain dikarenakan miskinnya hubungan emosional mereka. ”Bibit Penyakit” ini lepas dari pengamatan guru. Siswa merasa tidak dimanusiakan dan guru kehilangan kendali emosinya. Jalinan emosionalnya mungkin rapuh. Sementara itu, misalnya saja ada kenaikan SPP atau kekurangtepatan kebijakan sekolah, akan menjadi pemicu meledaknya bom waktu yang telah mereka pendam selama ini.

Selama ini hubungan guru dan siswa hanya formalitas dan miskin emosional, sehingga mendoakan siswa tidak banyak dilakukan guru. Kegiatan spiritual yang amat erat dengan hubungan emosional itu sudah menjadi barang antik, kuno dan aneh. Padahal, mendoakan siswa adalah kegiatan batiniah yang kuat mendorong usaha-usaha lahiriyah. Guru bisa berdoa agar siswa mudah menerima ilmu, berkembang nalarnya, tambah kedewasaannya, matang kepribadiannya dan untuk keberadaannya sebagai anak manusia. Ibarat mendorong gerobak, doa-doa guru akan memuluskan menggelindingnya gerobak yang ditumpangi siswa. Guru yang mendoakan muridnya selain hal ini menjadi bukti adanya hubungan emosional antara guru dan siswa, insya Allah tujuan pendidikan semakin mudah dicapai, sebab doa juga merupakan salah satu sarana pendidikan. Bukankah keberhasilan Rasulullah dalam mendidik umatnya, tidak hanya mempergunakan sarana pendidikan yang bersifat lahiriyah saja melainkan juga mempergunakan doa sebagai sarana pendidikan batiniah. Sarana pendidikan jenis ini haruslah kita budayakan.

Menghadapi siswa bandel atau nakal misalnya, umumnya guru hanya memanggilnya dan bukan menemuinya, lalu memberi pengarahan ini itu agar siswa itu sadar akan perbuatannya. Jarang sekali guru yang mau mendoakan siswa bandel itu agar Allah melimpahkan rasa kesadaran tertentu padanya. Siswa bandel tampak sangar mungkin karena tak pernah kena siraman doa guru.

 

G.        Akhlaq murid terhadap guru

Imam Bukhori sangat mencintai ilmu. Tetapi bagaimana sikapnya ketika Kholid bin Akhmad, Gubernur di daerahnya waktu itu meminta beliau memberikan les privat kepada anak-anaknya. Ulama yang memahami kemuliaan ilmu ini berbahagia dengan syarat anak-anak gubernur itu mendatangi rumahnya. Syarat ini rupanya membuat gubernur tersinggung, tetapi Imam Bukhori lebih bersedia diusir daripada mendatangi anak-anak beliau di istana. Ia pergi ke Samarkand dan mengajar di sana. Inilah akhlaq yang semestinya dimiliki seorang murid kepada gurunya. Bukan guru mendatangi rumah muridnya, tetapi muridlah yang harus datang ke tempat sang guru. Menghormati, memuliakan dan sopan santun terhadap guru adalah faktor penting bagi murid untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat..