Ada empat hal pokok yang tidak bisa dibeli dengan uang: waktu, keluarga, ketenangan hati dan cinta kasih. Maka, sepantasnya tiap pasutri mengutamakan kepentingan keluarganya di atas kepentingan orang lain.
Berdirinya sebuah sekolah merupakan salah satu wujud paling penting dan paling konkrit dalam mendidik keluarga dan anak-anak.
Umumnya Mengejar Nilai Akademik Semata
Ayah dan ibu tentu memilih sekolah paling baik dan paling sesuai dengan kebutuhan keluarga tersebut.
Secara umum, ayah ibu berharap anak-anaknya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya hingga jenjang perguruan tinggi terbaik bagi anak-anaknya.
Para orangtua berlomba untuk menempatkan putra-putrinya pada prestasi akademik tertinggi. Harapannya nilai raport dan nilai hasil tesnya bisa sangat tinggi.
Inilah Kebutuhan Mendasar Tiap Keluarga
Namun jangan sampai lupa, ada kebutuhan mendasar dalam pondasi keluarga yang wajib dipersiapkan ayah ibu dan para guru kepada generasi mendatang. Mereka harus dipersiapkan untuk menjadi warga negara yang berkualitas.
Agar menjadi warga negara yang berkualitas maka anak didik harus siap menjadi keluarga yang berkualitas pula.
Supaya menjadi keluarga yang berkualitas, maka seorang pria harus pandai menjadi suami dan kelak pandai menjadi ayah. Demikian pula wanita. Ia harus pandai menjadi istri dan pandai menjadi ibu kelak.
Sangat Butuh Keteladanan,Kurikulum dan Pembimbing
Kepandaian menjadi suami-ayah dan istri-ibu ini tentu menjadi pondasi bagi setiap keluarga.Agar menjadi pandai maka pasti membutuhkan kurikulum, pengajar, modul, dan paling peting adalah teladan yang baik.
Siapakah teladan yang paling dekat dengan anak-anak? Tentu ayah ibu di rumah dan para guru di sekolah.
Sebelum membentuk calon suami-ayah dan calon istri-ibu, tentu para pendidik dan wali murid harus berupaya sekuat jiwa dan raga untuk menjadi contoh yang baik.
Ibarat Sayap,Maka Keduanya Harus Sama Kuat
Di tengah derasnya arus materialisme, kebutuhan peguatan keluarga semakin terpinggirkan.Kini, penguatan keluarga tidak menjadi prioritas utama.
Mayoritas orang tua justru menghabiskan waktu dan tenaga untuk kecukupan materi (harta benda dan aset). Di masa kini, banyak lembaga pendidikan lebih kental dengan aspek akademis dan keterampilan wirausaha-industri.
Padahal,ibarat sayap, maka dua sayap kepandaian ini harus sama-sama kuat. Jika satu saja lemah,bisa-bisa generasi ini terjatuh di tengah perjalanan.
Dua sayap generasi itu disimpulkan ada sepasang: keterampilan kinerja dan keterampilan domestik.
A. Keterampilan Kinerja
Keterampilan kinerja antara lain
1. Logis analitis
2. Kreatif
3. Adaptif
4. Lincah dalam berpikir dan bertindak
5. Pembelajar sepanjang hayat
B. Keterampilan domestik
Inilah keterampilan yang sangat dibutuhkan setiap dalam perannya dalam keluarganya masing-masing ketika anak-anak sudah dewasa
1. Memenuhi kewajiban-kewajiban (sebagai pasutri & ayah ibu) sebelum meminta haknya.
2. Bersyukur atas kebaikan-kebaikan pasangan dan bersabar terhadap ketidaknyamanan pada pasangannya.
3. Komunikasi dua arah yang hangat dan penuh cinta.
4. Berlapang dada terhadap musibah dan ujian.
5. Mau terus belajar (tentang psikologi pasutri, fiqih dan komunikasi)
6. Menggenapi pernikahan dengan sikap taqwa
Baca juga:Inilah Betapa Penting Penguatan Keluarga Sebagai Penyeimbang Penguatan Akademik
Penulis: Oki Aryono
*Tulisan ini terinspirasi dari paparan Ustadz Abdulkadir M. Baradja, Ketua Pengurus Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya (YPAS).