Ada pemandangan bagus di sekolah-sekolah masa kini, hal yang hampir tidak tampak di sekolah era 1990an atau sebelumnya. Kini setiap pagi, di gerbang sekolah selalu tampak satu-dua guru atau lebih yang menyambut kedatangan siswa.
Ada guru yang bertugas menyambut kehadiran siswa-siswi dengan berdiri di gerbang sekolah sambil disalami setiap siswa yang tiba.
Ada pula dua atau tiga guru yang duduk di teras sekolah dengan meja untuk menulis buku harian milik siswa. Ketika ada satu murid yang datang dengan menyodorkan buku harian/penghubung, sang guru menanyakan atau memberi tanda centang tentang tiga hal kepada si murid:
– Apakah murid berwajah ceria saat tiba atau justru murung/menangis/lesu?
– Apakah murid sudah mandi?
– Apakah murid sudah sarapan?
Cara kedua ini biasanya diaplikasikan di sekolah tingkat bawah: PAUD, KB, TK hingga SD. Jadi sebelum jam pertama dimulai, guru/wali kelas bisa memberi penanganan yang lebih dini ketika mendapati murid yang murung atau menangis.
Kejeniusan Akan Lahir Dari Rasa Senang
Bagaimana pun, kegiatan belajar mengajar (KBM) akan efektif jika guru dan murid sama-sama sehat, bugar dan suasana hati yang riang.
Albert Einstein pernah menyatakan, “Kejeniusan dilahirkan dari kegembiraan, rasa senang dan rasa bahagia.”
Lalu bagaimana ketika mendapati seorang murid yang terlihat murung? Bagaimana cara mendekatinya agar dia mampu kembali ceria? Berikut adalah beberapa langkah yang bisa kita lakukan.
Langkah Pertama
Langkah pertama adalah mengecek suhu tubuh murid ketika bersalaman di pagi hari. Jika suhunya agak tinggi/panas, bisa jadi tubuhnya demam. Ketika demam, sangat mungkin ada kondisi tubuh lain yang kurang sehat atau ada gejala sakit tertentu.
Ketika mendapati kondisi semacam ini, penting untuk meminta murid istirahat di UKS dan segera memeriksakan kondisi kesehatannya kepada ahlinya. Bisa jadi, murid yang murung itu memang sedang kurang sehat atau ada gejala sakit pada tubuhnya.
Tidak jarang, ada siswa yang sedang sakit namun memaksakan diri tetap berangkat ke sekolah. Mungkin saja, orangtuanya tidak menyadari hal itu di rumah.
Atau wali murid tidak perhatian akan hal ini. Tidak selalu ayah dan ibu di rumah, karena ada juga murid yang tinggal bersama kakek-nenek atau kerabat lainnya.
Langkah Kedua
Orang murung biasanya butuh ruang untuk sendiri. Mereka enggan bicara atau bertemu orang lain. Maka, perlu diberi ruang khusus misalnya UKS atau ruang BK namun tetap dipantau.
Bagaimana pun kita tidak tahu seberapa dalam ‘luka’ batinnya hingga dia sampai sedih. Tempatkan di ruang yang terpantau agar kita bisa memberi pendampingan yang tepat, untuk mencegah ia berbuat yang lebih buruk bagi dirinya.
Maka, tiap sekolah hendaknya menyediakan ruang UKS dan BK yang bersih dan nyaman, khususnya bagi siswa usia akil baligh (kelas 5 ke atas). Agar siswa yang sedang galau bisa menyendiri dengan tenang.
Langkah Ketiga
Ketika dipastikan murid sehat namun psikologisnya tidak fit, maka hendaknya guru menawari apa yang dia butuhkan di momen itu. Jangan langsung bertanya apa problemnya. Karena langsung meminta orang yang murung untuk langsung bercerita tentang keluh kesahnya bukanlah momen yang tepat.
Biasanya, orang murung di awal-awalnya butuh ruang untuk menyendiri. Mungkin dia bisa menangis untuk meluapkan kesedihannya atau sekadar berdiam diri untuk membuat dirinya tenang. Barulah setelah mereda, orang murung ingin memenuhi keinginan tertentu yang rileks.
Tawarkan saja dia ingin apa, sesuatu yang mudah. Misalnya, dia butuh asupan yang segar agar mengembalikan mood-nya yang hilang. Misalnya dia mau es krim, coklat, bakso, dan seterusnya.
Wahai Bapak-Ibu Guru, Beginilah Bunda Khadijah Memberi Teladan Saat Keluarga Murung
Kisah teladan terkait ini ada pada diri Ummul Mukminin, Khadijah ra ketika Rasulullah Muhammad saw panik sepulang bertemu Jibril pertama kali.
Saat itu, Khadijah ra tidak langsung mengajak bicara atau bertanya ini itu. Namun, beliau melayani apa yang menjadi kebutuhan suami saat panik itu.
“Selimuti aku, selimuti aku.” Begitulah ucap Rasulullah saw begitu tiba di rumah. Sang istri pun segera memberikan selimut tanpa banyak bertanya atau bicara.
Setelah agak reda, justru Rasulullah saw yang memulai pembicaraan, bukan sang istri yang bertanya apa hal gerangan. Rasul saw berkata, “Ada apa dengan diriku? Sungguh, aku khawatir dengan keadaan diriku.”
Sang istri tidak menuntut penjelasan lebih lanjut atau terlalu kepo. Khadijah membesarkan hati suaminya yang sedang kalut itu dengan mengucapkan kalimat penenang.
“Sekali-kali tidak, bergembiralah. Demi Allah, Tuhan tidak akan menghinakanmu. Demi Allah, engkau adalah orang yang selalu menyambung tali silaturahim, menanggung beban orang lain, membantu orang miskin, memuliakan tamu, dan menolong orang yang menegakkan kebenaran.”
Apakah cukup hanya menenangkan saja? Tidak, Khadijah, di waktu yang tepat. Beliau mengambil langkah bijak berikutnya.
Tawarkan Dulu Apa Usulan Kita
Sebuah problem solving yakni mengajak Rasulullah menemui Waraqah bin Naufal, seorang pemuka agama yang menyembah satu Tuhan (monoteistik) yang juga merupakan sepupu Khadijah dari jalur ayah.
Selepas bertemu dengan Waraqah dan mendapatkan beberapa kalimat penjelas, Rasulullah bukan saja hanya merasa lebih tenang, tapi juga tahu langkah apa yang harus diambil berikutnya.
Sungguh sikap yang diambil oleh Khadijah sangat tepat. Saat itu, beliau bukan malah ikutan panik atau bahkan menjadi istri yang ‘sok tahu’ atas masalah suami/orang terdekatnya.
Karena, sering kali solusi itu muncul dari diri sendiri, sedangkan orang terdekat cukup dengan membesarkan hati.
Langkah keempat
Ketika hati yang tadinya murung sudah mereda, biasanya orang tersebut baru mau bercerita tentang keluh kesahnya. Maka, sebagai guru/orangtua, kita harus telaten untuk mendengarkan curhatan anak didik.
Kita harus siap untuk menjadi pendengar yang baik, menyimak sampai dia tuntas menceritakannya. Janganlah keburu memotong atau tergesa-gesa memberi solusi. Karena, sering kali anak kita punya potensi untuk menyelesaikannya secara mandiri.
Sebagai guru/orangtua, kita hanya menawarkan saja. “Kalau Kakak butuh bantuan, Ayah/Pak Guru/Ibu siap menemani.” Bagaimana pun, kemampuan menyelesaikan masalah adalah bagian keterampilan yang selalu mereka butuhkan sampai kapan pun.
Bersambung ke bagian kedua
Sikap Nabi Saat Mendapati Anak Kecil Murung
Jika yang kita hadapi masih usia kanak-kanak, maka ayah ibu (guru) bisa menggunakan pertanyaan saja. Hal ini dicontohkan Nabi saw saat bercengkrama Abu Umair, balita yang merupakan saudara seibu beda ayah dengan Anas bin Malik.
Ketika Zaid (nama asli Abu Umair) masih balita, ia punya burung piaraan. Saat burung itu mati, ia pun murung dan meratapi burung itu. Lantas, Nabi menghampiri Abu Umair dan berkata, “Wahai Abu Umair, apa yang sedang dilakukan si Nugair (nama burungnya)?”
Interaksi Nabi saw dengan balita ini menunjukkan sikap kasih sayang beliau dan sikap tawadhu. Tidak gengsi untuk bercanda dengan anak-anak di sekitarnya.
Selain itu, beliau bermaksud menghibur hati anak-anak tanpa banyak intervensi yang berlebihan. Itulah bentuk kepekaan Nabi terhadap orang-orang di sekililingnya sekalipun masih balita.
Kesimpulan
- Bagian dari tugas guru
Menjadi tugas seorang guru untuk memperhatikan dan memastikan kesiapan anak didiknya untuk mengikuti KBM dengan diawali mempersiapkan mood yang baik.
- Jika terdapat tanda-tanda mood yang kurang baik, maka guru harus melakukan empat langkah penting:
- Cek kebugaran anak
Memastikan apakah penyebab tidak mood itu karena siswa badannya sedang tidak fit atau karena jiwanya yang sedang terluka.
- Diagnosis dengan tepat
Diagnosis yang tepat akan menentukan tindakan yang tepat, jika diketahui tubuhnya sedang tidak fit, maka siswa bisa diarahkan untuk ke UKS guna mendapatkan penanganan kesehatan.
Namun jika yang terluka adalah jiwanya, maka bisa diarahkan ke UKS atau BK, tempat yang mereka bisa mendapatkan ruang privat untuk mendapatkan ketenangan, namun tetap berada di bawah pengawasan guru meski tidak dilakukan secara terang-terangan.
- Menghormati privasi anak
Saat anak memilih untuk berada di ruang privat dan menghendaki untuk menolak ditemani, maka guru hendaknya menghormati keputusan tersebut, namun tidak lupa meyakinkan kepada siswa bahwa jka ada hal yang dibutuhkan atau bisa dilakukan oleh guru, maka dengan senang hati guru akan melakukannya.
Dalam tahapan ini, guru memberi jaminan kepercayaan kepada siswa bahwa dia berada dalam siatuasi yang aman, jadi tidak perlu ada keraguan atau ketakutan.
Tetap Jaga Adab Islami Dengan Murid Baligh Bukan Mahram
Jaminan ini tidak perlu disampaikan dalam banyak kata, namun bisa cukup dengan mengelus atau menepuk pelan punggung (jika siswa sudah setingkat SD kelas V sampai SMA dan tidak berbeda jenis) sebelum meninggalkan mereka diruangan tersebut.
Namun jika masih setingkat TK sampai kelas IV SD, maka guru yang tidak berbeda jenis bisa sambil memeluknya dan hendaknya guru tetap berada di ruang yang sama.
Jadi Pendengar yang Baik
Ketika siswa sudah merasa tenang dan terlihat sudah mau membuka diri, maka guru bisa masuk dan menjadi pendengar yang baik.
Mendengarkan cerita mereka sampai tuntas, tidak menyela apalagi menghakimi. Memberikan saran atau nasihat dengan cara yang paling tepat (dengan melihat karakter siswa yang bersangkutan, karena terkadang ada siswa yang bisa dinasihati dengan cara bercanda, serius, disentuh hatinya, dll).
Nasihat tetap diberikan, karena terkadang pemberian nasihat yang tepat akan menjadi validasi bagi siswa bahwa kita perhatian dan berempati terhadap masalah yang mereka hadapi.
Dan dalam agama, memberi nasihat juga merupakan kewajiban seorang muslim. Namun sekali lagi, harus dengan cara yang tepat (hikmah).
Guru juga harus tetap menghargai dan memberi ruang bagi siswa untuk menemukan solusi sendiri. Jika solusi yang mereka sampaikan kurang tepat, guru wajib mengarahkan tanpa lupa untuk menunjukkan apresiasinya atas upaya siswa tersebut.
Jika solusi yang siswa temukan sudah tepat, maka guru juga harus menguatkan hal tersebut, sehingga siswa tidak ragu untuk merealisasikan idenya.
Dengan langkah-langkah tersebut, insya Allah tidak hanya siswa akan siap menerima KBM dengan baik, tapi juga akan membentuk bounding antara siswa dan guru, yang pada akhirnya tujuan akhir dari sebuah Pendidikan yakni adanya perubahan sikap ke arah yang lebih baik, akan tercapai. Wallahu a’lam bisshowab.
Penulis: Oki Aryono
Editor: Fitriya Zulianik, MA, Guru SMK Al-Irsyad Surabaya