Masa-masa kelam tidak hanya dialami oleh kita. Bahkan para nabi dan rasul lebih mencekam situasinya. Mari kita baca perjuangan Nabi Muhammad dan kaum muslimin ketika menderita beratnya tekanan hidup.
- Kisah Pengepungan Madinah (Perang Khandaq/Ahzab)
Selama 24 hari penuh Madinah dikepung pasukan gabungan tiga golongan: pasukan Quraisy Mekkah, Kabilah Ghatafan yang tersebar di gurun Najd dan rongrongan dari dalam Madinah Yahudi Bani Quraizhah.
Menurut catatan sejarah, pasukan gabungan/Ahzab itu mencapai 10 ribu. Riwayat lain malah menyebut 15 ribu personel bersenjata dan sebagiannya berkuda.
Jumlah yang pada saat itu bahkan lebih banyak daripada jumlah total penduduk Madinah termasuk wanita dan anak-anak.
Nyaris sebulan, penduduk Madinah terkepung tanpa jeda. Ide menggali parit/Khandaq muncul dari Salman Al Farisi –alhamdulillah– sangat efektif membendung pergerakan musuh.
Para pria berjaga-jaga di sekitar parit, sambil memasang busur yang siap dilesakkan jika pasukan musuh menimbun parit. Setiap musuh berupaya menimbunnya, kaum muslimin menghujani mereka dengan anak panah.
Saking Gentingnya, Buang Hajat Pun Sulit
Musuh tak bisa masuk kota. Mereka hanya berputar di sekitar parit sambil sesekali melesakkan panah. Kaum Muslimin berusaha menangkisnya dan tetap berjaga di sisi dalam.
Suasana sangat genting. Tak ada yang bisa istirahat. Semua berjaga siang dan malam. Saking mencekamnya, sampai-sampai orang munafik mengeluh tak bisa buang hajat.
Ada yang berkata, “Muhammad menjanjikan kepada kita kelak kita akan menikmati perbendaharaan/harta Kaisar (Romawi) dan Kisra (Persia). Padahal sekarang, jangankan itu, untuk pergi buang hajat saja tidak ada satu pun dari kita yang merasa aman!”
Awan Madinah terasa gelap dan pengap. Semua ketakutan. Ibarat malam makin larut, tentu saja sebentar lagi fajar menyingsing.
Pemimpin Yang Mau Turun Ke Lapangan dan Menyertai Dalam Sulit
Nabi Muhammad memberi motivasi bahwa jika kita berjuang dan tabah atas ujian ini, Allah akan bukakan pintu kemenangan. Kuncinya adalah perjuangan di jalan ilahi dan ketulusan dalam berdoa.
Ketika menggali parit, Rasulullah memukulkan cangkul pada batu yang sangat keras sambil mengucapkan harapan, “Allahu Akbar! Aku telah dianugerahi kunci-kunci negeri Syam. Demi Allah, saat ini aku benar-benar melihat istana-istananya yang megah berwarna merah.”
Pada pukulan kedua, beliau berkata, “Allahu Akbar! Aku telah dianugerahi kunci-kunci negeri Persia. Demi Allah, saat ini aku benar-benar melihat istana istana Madain yang berkilau putih.”
Pada pukulan ketiga dan batu itu pun pecah, Nabi saw mengucapkan, “Allahu Akbar! Aku telah dianugerahi kunci-kunci negeri Yaman. Demi Allah, dari tempatku ini aku benar-benar melihat pintu-pintu gerbang Shana’a.”
Cita-cita Yang Dikabulkan
Terwujudnya ucapan Nabi saw ini relatif singkat. Ini menjadi salah satu bukti mukjizat kenabian yang paling nyata bagi kaum muslimin saat itu.
Pasalnya, pada tahun 5 H, umat Islam sedang dalam kondisi terjepit dan terkepung (dalam perang Ahzab), namun hanya dalam kurun waktu 11 tahun kemudian, mereka justru berhasil meruntuhkan Persia, salah satu imperium adidaya terbesar di dunia pada masa itu.
- Perjuangan keluar Dari Kungkungan Bangsa Penjajah
Nusantara ini sudah dianeksasi secara militer oleh bangsa Eropa sejak 1511. Yaitu ketika Portugis menyerang Bandar Malaka dan menguasainya. Kemudian Portugis menaklukkan Maluku pada tahun berikutnya.
Militer Spanyol juga masuk ke Maluku pada 1521 dan sempat berseteru dengan Portugis. Kemudian keduanya berdiplomasi untuk membagi wilayah.
Lalu Belanda yang masih berupa perusahaan multinasionalnya (VOC) berhasil mengusir Portugis dari Maluku pada 1605 dan menghancurkan Jayakarta pada 1619, kemudian mengubah namanya menjadi Batavia.
Ratusan Tahun Dipaksa dan Diperas
Sejak itulah, VOC memonopoli perdagangan hasil bumi Nusantara. Dalam perjalanannya, VOC pun dinyatakan bangkrut (1799), lalu dibubarkan dan Nusantara ini diambil alih dan dikuasai langsung oleh Kerajaan Belanda sejak Januari 1800, hingga Jepang berhasil mengusir Belanda (1942).
Berabad-abad wilayah Nusantara dipaksa Bangsa luar dengan monopoli perdagangan hasil bumi. Barulah pada 1945, kita menyatakan kemerdekaan atas nasib kita sendiri. Selama ratusan tahun dalam keadaan gelap.
Merdeka Atau Mati, Berjuang Hingga Akhir Hayat
Namun para pendiri negeri ini tidak putus asa. Tidak menyerah. Mereka bersatu, lantang menyuarakan harapannya dan melakukan perlawanan, baik secara militer maupun nonmiliter.
Ratusan tahun terkungkung tidak membuat mereka menyerah. Justru makin bersemangat. Mereka sadar, bahwa anugerah agung dari Allah berupa Bumi Nusantara ini harus dan layak diperjuangkan agar menuju negeri yang aman Sentosa.
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya…”
-ust oky