Pagi itu, kakiku melangkah tegap bagai seorang tentara namun sedikit ragu. Jantungku berdegup kencang membayangkan pertemuan dengan murid baruku. Di awal tahun ajaran baru adalah hari yang penuh kejutan.
Di kelas baruku ini kuberi nama Rainbow Class. Di ambang pintu ini aku membayangkan akan ada 20 anak dengan 20 karakter unik berkumpul di Taman Pelangi, Jalan Hang Tuah Surabaya, Jawa Timur.
Jujur saja, aku berharap mereka sama. Sama-sama duduk manis, sama-sama menjawab salam, sama-sama mendengarkan. Tapi Taman Pelangi segera menyadarkanku. Bagaimana saya bisa menyatukan 20 dunia yang berbeda ini menjadi satu?
Pertemuan awal yang mendebarkan
Di hari pertama MPLS, Adi digandeng ayahnya dan ditinggal begitu saja. “Anaknya belum bisa komunikasi Bu,” ucap sang ayah singkat. Si Adi kecil menangis meronta sambil menunjuk ayahnya yang beranjak meninggalkan halaman sekolah.
Awalnya saya bingung. Namun saya ingat prinsip Vygotsky tentang Zone of Proximal Development yang menyatakan bahwa anak belajar optimal dengan bantuan orang dewasa. Saya gendong, saya temani, saya jadi ‘tangan’ dan ‘suara’ untuk Adi dulu.
Di hari-hari berikutnya Adi sudah berani masuk tanpa menangis. Hanya saja ia masih tantrum jika punya kemauan tapi belum bisa mengungkapkan.
‘Overdosis’ Gadget Yang Merusak Tumbuh-kembang
Zozo tidak mau masuk kelas jika tidak ditunggui ayah ibunya. Ia menangis pelan dan belum bisa komunikasi jelas. Ternyata Zozo dan Adi adalah korban ‘overdosis’ gadget dikarenakan ibunya bekerja di luar.
Sedangkan sang anak di rumah bersama pembantu dan diberikan gadget supaya tenang dan tidak menangis.
Saya tidak memaksa mereka untuk duduk selama pembelajaran. Saya terapkan prinsip Montessori Follow the Child yaitu mengikuti minat dan gerak anak. Saya sediakan sudut gerak.
Lama-kelamaan Zozo bisa fokus lima menit, lalu 10 menit. Untuk Adi dan Zozo yang masih memakai popok, saya pahami bahwa kesiapan toilet training berkaitan erat dengan kematangan bahasa dan kognitif (Kemendikbudristek, 2023).
Cemas Saat Berpisah
Clara menangis sejak pagi sampai siang di pojok pintu sambil memeluk ibunya. Saya tidak buru-buru melepas. Saya beri waktu.
Sesuai tahapan dalam teori perkembangan sosial-emosional, anak usia 3-4 tahun memang masih mengalami kecemasan berpisah (Depdiknas, 2007).
Di hari kedua, saat ibunya memberanikan diri pergi, Clara akhirnya masuk tanpa drama. Kepercayaan itu butuh proses.
Si Ringan Tangan
Yusuf sulit dipanggil namanya. Tangannya sering memukul dan menendang teman spontan. Saya pegang bahunya pelan: “Yusuf, tangan ini untuk memeluk ya.”
Saya alihkan energinya jadi ‘penjaga teman’ pada dirinya. Setiap berhasil, dapat jempol: Anak Hebat.
Strategi ini saya dasarkan pada Teori Penguatan Positif, suatu perilaku baik yang diapresiasi akan diulang (Suyadi, 2015). Daripada menghukum, lebih efektif mengarahkan energi Yusuf ke peran positif.
Hidup Untuk Makan
Arsa meminta semua sesuai keinginannya. Baru masuk kelas, sudah minta makan. Jika tidak dituruti, ia menutup telinga.
Usia 4-5 tahun memang fase egosentris, yaitu anak merasa dunia berputar di sekitarnya (Vygotsky, 1978). Pelan-pelan saya ajarkan giliran dan berbagi.
“Sekarang giliran teman dulu ya Arsa, nanti giliran kamu”. Tanggung jawab kecil saya berikan, seperti membereskan mainannya sendiri.
Duniaku Adalah Sendiri
Dunia Hafiza berbeda. Ia tertawa sendiri, berputar-putar, belum bisa komunikasi dua arah. Dokter bilang ADHD atau hiperaktif-susah berkonsentrasi.
Awalnya saya frustasi. Lalu saya belajar: anak dengan ADHD butuh stimulasi visual dan gerakan, bukan paksaan duduk diam (WHO, 2021).
Saya tidak memaksa menatap mata. Saya panggil namanya pelan sambil menunjukkan gambar. Saya libatkan dia dalam kegiatan gerak dan musik. Hari demi hari, ia mulai melirik dan mau ikut, walau belum sempurna.
Gesit dan Lincah
Zein adalah seorang anak laki-laki bertubuh mungil namun lincah dan gesit sekali. Di hari pertama sangat mengagetkanku dengan gerakannya yang cepat dan tidak bisa dipegang.
Saat pulang sekolah dia pasti berlari ke luar halaman tanpa mau berbaris seperti teman temannya yang lain.
7 Yang Spesial, 14 Lainnya yang Unik
Dari 20 anak, tujuh di atas adalah warna yang paling menonjol. Sedangkan 14 anak lainnya juga punya ceritanya sendiri: ada yang pemalu, ada yang pendiam, ada yang jago menggambar, dll.
Menurut Kemendikbudristek 2023, setiap anak usia dini memiliki gaya belajar dan kecerdasan berbeda. Karena itu saya juga merujuk pada Teori Kecerdasan Majemuk Gardner dengan 9 tipe kecerdasan.
Ada anak yang cerdas gerak, musik, bahasa, matamatis, visual, interpersonal (sosial), intrapersonal (perenungan/riset), naturalis (alam) dan eksistensial (filosofis). Tugas saya bukan menyamakan, tapi menyediakan ‘pintu’ yang berbeda untuk masuk.
Penutup, Pelangi Dari 20 Warna
Menjadi guru PAUD berarti siap menerima keragaman. Bukan menyamakan, melainkan memahami setiap warna. Karena pelangi indah jika semua warnanya utuh.
Dari 20 anak di Taman Pelangi, saya belajar bahwa setiap anak adalah ‘buku’ berbeda. Ada yang dibaca cepat, ada yang pelan-pelan, dan ada yang harus ditemani sampai selesai. Tugas saya bukan mengubah isinya, tapi memahami setiap halamannya dengan hati.
Kini saya paham, tugas kami adalah memastikan 20 warna ini tetap cerah, berani bersinar, dan berjalan bersama.
Karena pelangi tidak akan indah jika hanya ada satu warna. Dan Taman Pelangi saya adalah tempat ketika perbedaan dirayakan, bukan diseragamkan.
*Tulisan ini sebagai bagian dari partisipasi dalam Lomba Penulisan Artikel bagi Guru dan Tenaga Kependidikan oleh Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikdasmen dalam rangka HUT RI ke-81 (2026).
Penulis: Hilaliyati, S.Pd, Guru PG-TK Al Irsyad Surabaya
Editor: Oki Aryono
baca juga : Melatih Anak Agar Mampu Memperagakan Akhlak yang Mulia