Di tulisan sebelumnya, kita membahas kebutuhan mendasar bagi anak dalam kehidupan berkeluarga. aspek akademik begitu sering diperhatikan bahkan dikuatkan. Ada pelajaran di sekolah,ada remidi, hingga les di bimbel.
Ibarat Sepasang Sayap
Sedangkan aspek domestik kurang dipersiapkan. Ibarat sayap, jika salah satu dari dua sayap tidak kuat-apalagi hilang- tentu burung tak mnampu terbang, bahkan bisa terjatuh.
Apa itu aspek domestik dan mengapa sama pentingnya dengan aspek akademik? Mari kita mengambil pelajaran dari suatu kisah nyata berikut ini.
Ada seorang ayah (generasi 1), sebut saja namanya Pak Jura (bukan nama sebenarnya).Ekonomi keluarga pak Jura pas-pasan. Bagian bawah dinding rumahnya batu bata, hanya satu meter tingginya, sisanya masih berupa anyaman bambu yang dicat kapur.
Anak Yang Cerdas Dan Berprestasi Tinggi
Pak Jura punya putra (generasi 2), namanya Suga (nama samaran). Suga merupakan anak yang cerdas, di sekolah selalu meraih nilai tertinggi. Kawan-kawannya sering minta ajari saat mengerjakan PR.
Kemudian,Suga kuliah di perguruan tinggi favorit, mampu meraih beasiswa dan wisuda dengan predikat cumlaude. Pak Jura, bangga dengan prestasi putranya itu.
Pak Jura makin bangga kepada Suga ketika anaknya itu diterima bekerja di perusahaan asing di Indonesia. Tidak main-main, gajinya berupa mata uang dolar AS.
Seakan Merasakan Angin Surga
Suga rutin mengirimkan uang kepada ayahnya. Rumah orangtuanya direnovasi lebih bagus dan kokoh. Tak hanya itu, Suga membuatkan garasi serta membelikan mobil bagi orangtuanya.Dari sinilah,Pak Jura seakan merasakan angin surga.
Singkat cerita, Suga menikah dengan Nini (nama rekaan) dan punya putra (generasi 3),sebut saja namanya Hoka (nama fiksi).
Ikhtisar
Jura : generasi 1
Suga : generasi 2
Nini : istri dari generasi 2
Hoka : generasi 3
Ketika Hoka beranjak remaja, di sinilah musibah itu terjadi. Hoka terjerat kasus narkoba ditahan kepolisian. Naudzubillah.
Proses hukum pun berjalan. Mulai penyidikan, persidangan, penuntutan, putusan vonis hingga masa tahanan.
Kini Kebahagiaan Itu Rusak Seketika
Keluarga mana yang tidak hancur hatinya mengalami musibah seperti ini. Jika harus ada yang dimintai pertanggungan jawab, siapa yang pertama?
Jika generasi 3 yang bermasalah, lazimnya kita tentu menuding genenasi 2 (ayah ibu) yang paling bertanggung jawab. Tentu saja demikian adanya.
Namun jika kita merenung lebih dalam, kita patut mempertanyakan hasil didikan generasi 1kepada generasi 2, dalam hal ini Pak Jura. Memang Pak Jura berhasil mendidik Suga dalam aspek akademik, tapi Pak Jura seakan lupa untuk mendidik Suga agar kelak mampu menjadi ayah yang baik bagi Hoka dan menjadi suami yang baik bagi Nini.
Pak Jura hanya fokus pada keterampilan akademik si Suga, tapi tidak menyiapkan pondasi yang kuat pada keterampilan domestik. Apa saja itu? Keterampilan domestik itu antara lain :
- Memberi teladan yang baik bagi istri dan anaknya
- Memulai kebaikan-kebaikan
- Membiasakan ibadah wajib dan sunnah sejak di rumah
- Mengontrol pergaulan anak dan istri
- Punya waktu yang cukup untuk bercakap-cakap dengan istri dan anak
- Berdoa kepada Allah agar diberi kebaikan pada istri dan anak keturunannya.
- dst

Ini adalah kisah nyata, belum lama terjadi sejak artikel ini ditulis. Dan kisah keluarga Pak Jura ini ternyata menyentak hati nurani kita. Pak Jura sebagai generasi 1 begitu menyesal,ternyata dia tidak cukup memberi bekal kepada generasi 2.
Kini, Seolah Terdera Angin Panas
Ketika musibah itu terjadi, bukan angin surga lagi yang dirasakan generasi 1, bahkan Pak Jura seakan merasakan angin panas tanpa henti.
Bahwa kehidupan Suga (generasi 2) lebih banyak kesenangan sesaat. Banyaknya uang dan jabatan yang tinggi di perusahaan, Suga tak ada waktu mengawasi istri dan anaknya.
Banyaknya materi membuat istri Suga lalai dengan tugasnya sebagai istri yang baik.Dan Suga tidak punya waktu dan tidak cukup kontrol terhadap istri dan anaknya.
Akibatnya pun fatal. Anak dan istri yang dilenakan uang/harta tanpa kontrol dan tanpa teladan, justru menjurus kepada kelalaian. Uang yang banyak tanpa edukasi membuat keluarga itu sibuk pada kesenangan semata.
Ada Yang Lalai Dengan Kewajiban-Kewajibannya
Menurut cerita, Nini, istri Suga lebih sering plesir bersama bestie-nya daripada fokus mendidik dan menjaga anak. Suga pun tak punya waktu untuk mengecek istrinya itu, karena sibuk bekerja di perusahaan multinasional.
Kini semua pihak merasakan angin panas yang berkepanjangan. Naudzubillah.Jangan sampai keluarga kita terjerumus pada kerusakan seperti ini.
Kesimbangan Itu Mutlak
Inilah betapa pentingnya penguatan pondasi keluarga, sebagai penyeimbang penguatan akademik anak didik kita. Agar dua sayap itu sama-sama kuat dan mampu menerbangkan generasi penerus kepada keberkahan hidup.
Para orangtua dan guru berhajat untuk menyiapkan anak didik-khususnya yang sudah baligh-agar kelak pandai menjadi suami-ayah dan pandai menjadi istri-ibu.
Kita sangat membutuhkan panduan dan kurikulum keluarga yang konkrit, baik di sekolah maupun di rumah.
Tak hanya bagi murid yang sudah baligh (SMP-SMA), namun juga bagi orangtua murid.Karena satu tindakan nyata lebih membekas bagi anak daripada seribu kata. An action speaks louder than words.
Kekuatan Doa Dari Yang Maha Tak terbatas
Target utamanya adalah mempersiapkan anak didik menjadi pribadi yang kuat di kemampuan akademis dan kemampuan domestik. Di luar rumah dan luar sekolah, terlalu banyak halangan ini. Tak terbatas banyaknya.
Kita membutuhkan sumber kekuatan yang tak terbatas. Yaitu kekuatan Allah, melalui doa-doa yang tulus ikhlas dipanjatkan oleh para ayah ibu dan guru.
Sehingga anak dan pasangan kita benar-benar menjadi penyejuk hati dan menyenangkan dipandang, sebagaimana lafal doa yang dipanjatkan hamba-hamba Ar Rahman (ibadurrahman).
Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrota ayunin wa ja’alna lil muttaqina imama.
“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah bagi kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.”(QS.Al Furqan 74).
Penulis: Oki Aryono
Artikel ini terinspirasi dari wejangan Ustadz Abdulkadir M. Baradja, Ketua Pengurus Yayasan Perguruan Al- Irsyad Surabaya (YPAS), yang disertai kisah nyata dari seseorang.