Kahlil Gibran dalam goresan penanya menuliskan
“Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri Sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu”.
Bait puisi di atas mengingatkan saya kepada cerita seorang rekan yang memiliki tiga putra dewasa (untuk selanjutnya kita sebut beliau dengan nama samaran Ahmad) terkait hasil percakapan di rumahnya. Putra yang nomor dua sudah lulus pendidikan dokter.
Namun, ternyata sang anak lebih suka berbisnis aksesoris pria, terutama jam tangan bermerek, dengan cara online maupun offline. Rupanya adiknya juga ikut membantu bisnis kakaknya itu
Orangtua Punya Harapan, Anak Punya Passion-nya Sendiri
Pak Ahmad agak kecewa mengapa anaknya yang dokter itu tidak fokus pada profesinya, sehingga bisa menempuh pendidikan dokter spesialis.
Ketika Pak Ahmad menanyakan hal tersebut, sang anak menjawab, “Tugas saya untuk taat kepada orangtua dengan kuliah kedokteran sudah saya tunaikan, sekarang izinkan saya untuk mengembangkan potensi saya.”
Sang anak mengungkap bahwa praktik dokter hanya tiga kali sepekan. Sebagai bentuk pelayanan masyarakat saja. Bukan sebagai jalur karir, kini sang anak sibuk dengan passion-nya.
Bapak Ibu Pembaca yang budiman, kisah seperti ini tidak hanya sekali saya dengar. Cukup sering saya menyimak -baik langsung maupun tidak langsung- bahwa sejumlah orangtua keheranan dengan sikap anak-anaknya.
Anak Ibarat Wadah, Allah Telah Membentuknya, Inilah Peran Pendidik-Ortu
Setelah lulus kedokteran, sang anak justru banting stir ke profesi lain yang lebih disukainya. Kuliah kedokteran atau kuliah tertentu hanya untuk menuruti kemauan ayah ibu saja.
Ada yang kemudian berbisnis, ada juga yang hobi otomotif, ada yang menekuni dunia digital (progamming), ada yang jadi aktivis sosial, dsb.
Saya teringat tulisan seorang pendidik senior (dulunya guru dan pensiunan kepala sekolah). Pak guru ini menuliskan, “Anak kita adalah wadah. Maka, isilah wadah itu hingga penuh dan sesuai bentuk wadah itu.”
Bahwa anak pada hakikatnya adalah wadah yang dititipkan Allah dengan segala potensi yang ada pada dirinya masing-masing.
Inilah Isi yang Sediakan Allah
Ayah ibu harus mengisi wadah itu hingga penuh, hingga optimal. Jangan sampai diisi orang lain yang sangat mungkin mengisinya dengan konten keburukan.
Dan orang mukmin sudah seharusnya mengisi wadah anak-anak mereka dengan panduan Al Quran dan sunnah-sunnah Rasulullah Muhammad saw.
baca juga Tradisi Islam Di Masa Lampau, Belajar-Mengajar-Menulis
Tugas pendidik dan orangtua Adalah memberi isi sekaligus warnanya. Dengan isi dan warna yang telah disediakan Allah.
“Sibgoh/celupan Allah. Dan siapakah yang lebih indah celupannya daripada (celupan/warna) Allah? Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah.” (QS. Al Baqarah 138).
Jangan sampai memaksakan bentuk wadah itu sesuai kemauan orangtua yang bisa jadi itu tidak sesuai bentuk wadah aslinya dari Allah.
Apa saja panduan utama dalam mengisi wadah putra-putri kita? Berikut ini pesan-pesan para ayah kepada anak-anaknya dalam Al-Quran dan dalam hadits Nabi saw.
1. Pesan Nabi Ibrahim dan Nabi Yaqub: menjadikan Islam sebagai jalan hidup
“Dan Ibrahim telah telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya demikian pula Yaqub. ‘Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kalian, maka janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. 132).
2. Pesan Luqman: Jangan berbuat syirik dalam bentuk apapun
“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS. Luqman 13).
3. Pesan Nabi Muhammad: Ajaklah anak untuk shalat dan tegurlah jika enggan
“Perintahkan (ajaklah) anak-anak kalian untuk shalat jika sudah mencapai usia 7 tahun. Jika sudah berusai 10 tahun, maka pukullah apabila tidak melaksanakan. Dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud).
4. Pesan Dari Pendiri NKRI: Agar alam Indonesia diolah sendiri oleh anak negeri
Ir Soekarno pernah menggelorakan semangat kepada bangsa Indonesia. Bung Karno menyatakan, “Biarkan kekayaan alam kita tetap tersimpan di perut bumi, hingga unsur-unsur Indonesia mampu mengolahnya sendiri.”
Di sinilah pentingnya pendidikan. Anak negeri ini harus menempa diri dan mempersiapkan segala sesuatu. Misinya adalah mandiri dan berdikari.
Agar ia mampu mengolah alamnya sendiri tanpa harus selalu mengundang investor luar untuk mengeruk sumber daya negeri ini seperti yang saat ini banyak terjadi.
ikuti tes potensi anak klik disini
Bersambung ke bagian dua : Pendidikan Adalah Kunci Mengisi ‘Wadah’ Jiwa Raga