Dilansir dari MediaIndonesia.com, ada sebuah survei yang diadakan oleh The Kids Mental Health Foundation terhadap lebih dari 1.000 orangtua menunjukkan anak-anak mereka sering tidak bersekolah karena merasa lelah, cemas, atau mengaku sakit.
Namun, para ahli menekankan gejala fisik semacam ini sering kali berkaitan dengan masalah kesehatan mental.
Mengapa Anak-anak Sering Cemas Di Sekolah?
Mengapa anak-anak merasa cemas dan mengaku sakit ketika diminta pergi ke sekolah? Salah satu alasan adalah ketidaknyamanan yang mereka rasakan saat berada di sekolah.
Agar siklus semacam ini tidak terulang, maka sudah seharusnya pihak-pihak yang terkait secara langsung dengan sekolah memikirkan langkah yang tepat untuk mengatasinya. Salah satunya adalah dengan membenahi proses pembelajaran yang ada.
baca juga : Ajak Murid SD Al-Irsyad Agar Gigi Sehat Senyum Hebat
Pembelajaran di sekolah dituntut untuk lebih menyenangkan, tidak membosankan dan penuh makna. Mengapa?
Bagaimana Kerja Otak Saat Nyaman vs Cemas?
Karena otak manusia bisa lebih berkembang jika mendapat stimulus positif dan menyenangkan. Otak manusia bisa terstimulus secara negatif maupun positif.
Otak yang terstimulus emosi negatif akan mengeluarkan ‘racun’ kortisol dan adrenalin, mengaktifkan batang otak, ‘racun’ bagi otak, lalu membunuh sel-sel otak memori.
baca juga : Menakar Potensi, Menjemput Masa Depan, Kilas Balik Tes Peminatan Kelas IX
Itulah sebabnya mengapa ketika kita tidak menyukai suatu pelajaran, maka akan sulit bagi kita untuk mengingat atau memahaminya.
Hormon Cinta, Apa Itu Dan Apa Manfaatnya Bagi Anak?
Sebaliknya, ketika otak mendapat stimulus positif, maka dia akan memicu tonik endorphin, serotonin, dan dopamine yang berguna untuk memperkaya pertumbuhan neokorteks. Sehingga kita jadi lebih gembira.
Hal itu sering disebut sebagai hormon cinta (dikutip dari buku Anakku TitipanMu, Penerbit Rumanos, hlm. 56-60, tahun 2024, penulis Bekti Prastyani Konsultan Sekolah Ramah Anak).
Albert Einstein pernah menyatakan: “Kejeniusan dilahirkan dari kegembiraan, rasa senang dan rasa bahagia.”
Kita sangat membutuhkan keteladanan Rasulullah Muhammad saw dalam memberi pendidikan kepada keluarganya dan para sahabatnya, khususnya sahabat yang masih kanak-kanak maupun yang masih remaja di masa itu.
baca juga : MPLS SMK Al-Irsyad Surabaya: Bekali Siswi dengan Edukasi Bahaya NAPZA, Judi Online, dan Pinjol Sejak Dini
Penggalan Kehidupan Nabi dan Sahabat Belia Berusia 10 Tahun
Ada sahabat Nabi saw yang hidup bersama keluarga beliau sejak masih usia kanak-kanak. Salah satunya Anas bin Malik (ia adalah “hadiah” yang diberikan oleh Ummu Sulaim — sang ibu— kepada Rasulullah sebagai wujud rasa syukur karena Rasulullah memilih tinggal di Madinah).
Sejak itulah Anas berkhidmat di keluarga nabi dan mendapat banyak pengajaran (meriwayatkan hadits) dari Nabi saw. Selama 10 tahun ia mendedikasikan hidupnya melayani kebutuhan Nabi.
Sahabat Kecil yang Berkhidmat Kepada Nabi 10 Tahun Lamanya
Nabi saw kadang memanggilnya Unais, sebagai panggilan sayang kepada bocah yang masih suka bermain. Kadang beliau menyebut wahai Anas, kadang juga wahai anakku.
Suatu ketika Nabi menyuruhnya dan harus menuju ke suatu tempat di dalam kota. Ia pun berangkat, namun ia melihat teman-teman sebayanya di tengah perjalanan sedang bermain.
Anas tertarik dengan permainan itu dan bergabung di dalamnya. Ia lupa dengan tugas dari Nabi saw.
Bocah Itu Justru Bermain Dan Lupa Dengan Tugasnya
Tak lama kemudian, ada sosok orang dewasa yang memegang pundaknya lantas Anas menoleh. Ternyata itu Rasulullah saw.
“Wahai Unais, apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?” Anas pun kebingungan dan berkata, “Sekarang aku akan berangkat wahai Rasulullah.”
Jauh setelah itu, Anas mengungkapkan kesimpulannya selama 10 tahun hidup bersama Rasulullah.
Ketika Nabi saw telah lama wafat, Anas menuturkan, “Demi Allah, aku telah berkhidmat kepada beliau selama 10 tahun.”
“Beliau tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku lakukan: ‘Mengapa kamu melakukan itu?’ Beliau tak pernah mengatakan untuk sesuatu yang tak kulakukan: Mengapa kamu tidak melakukan itu?’”
Statemen Anas menunjukkan bahwa Rasulullah berinteraksi dengan sangat positif, penuh kelembutan dan menyenangkan, bahkan saat memberikan pengajaran.
baca juga : SMA Al Irsyad Mendorong Prestasi Siswa Menuju PTN Terbaik
Bagaimana Agar Anak Belajar Dalam Suasana Menyenangkan?
Dari sini kita dapat menyimpulkan, bahwa seorang pendidik terbaik akan tetap menciptakan suasana dan keadaan yang menyenangkan bagi anak didiknya.
Sebagai pendidik bagi anak kecil, Nabi saw, memperlakukan anak didiknya dalam suasana hati yang tenang dan penuh kasih sayang. Cukup dengan mengingatkan dengan penuh kasih sayang dan kelembutan jika anak didiknya lupa atau lalai.
Resep Dari Nabi
Inilah teladan bagi guru, kepala sekolah, ayah ibu dan wali murid dimanapun berada jika sangat ingin meneladani resep pendidikan ala Nabi Muhammad saw terhadap para pelajar di bawah naungan lembaga masing-masing.
Sebagaimana yang tercantum dalam sebuah hadits dari Rasulullah SAW terkait sifat lembut. “Siapa saja terhalang dari sifat kelembutan maka dirinya terhalangi untuk memperoleh kebaikan seluruhnya.” (HR. Muslim no. 2592).
Penulis: Oki Aryono
Editor: Fitriya Zulianik, M.A., Guru SMK Yayasan Perguruan Al Irsyad Surabaya