Di masa gempuran medsos, manusia selalu mengamati dan bahkan mencerna pola hidup orang lain. Dari sanalah kemudian manusia membandingkan dirinya dengan para kreator konten.
Disadari atau tidak, pola hidup para kreator itu seakan menjadi acuan netizen. Isi medsos diwarnai praktik flexing, yaitu mempertontonkan kesenangan dan harta benda.
Praktik Flexing Sudah Ada Sejak Sebelum Masehi
Secara fitrah, memang manusia selalu membandingkan dan cenderung meniru pada suatu hal yang dianggapnya menyenangkan atau yang berada di dekatnya.
Fenomena flexing ini sejatinya sudah menjadi tabiat manusia sejak dahulu kala. Qarun merupakan wujud nyata bahwa manusia punya tabiat flexing di depan publik. Sehingga, masyarakat tergiur dengan harta Qarun yang begitu banyaknya.
“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku zalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.’” (QS. Al Qashash 76).
Membandingkan harta tanpa memperhatikan kemanfaatannya justru dicela oleh Allah melalui lisan orang-orang yang memahami hakikat ilmu.
“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, ‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’” (QS. Al Qashash 79).
“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, ‘Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.’” (QS. Al Qashash 80).
Allah Memuji Seseorang yang Komitmen Beribadah Di Sela Pekerjaan
Mengejar prestasi materi dengan meniru pihak lain akan menyiksa diri. Memang, dalam Islam diperbolehkan meniru aspek materi duniawi jika dipergunakan untuk kebajikan. Namun, jangan sampai lalai dari beribadah dan aturan halal haram.
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An Nur 37).
###
Pembaca bisa klik tulisan sebelumnya berjudul: Ketika Murid Dihadapkan Pada Dunia Persaingan
###
Mengejar prestasi tidak harus mengacu pada capaian orang lain. Dalam kenyataannya, marilah mengalahkan diri kita yang kemarin.
“Tak perlu kalahkan orang lain, kalahkan saja dirimu yang kemarin.” Moto ini banyak bertebaran di medsos.
Hal Kecil Tapi Berdampak Besar
Ada rumus penting terkait moto di atas. Namanya Atomic Habit, sebuah buku (terbit 2018) karya James Clear (kelahiran Ohio, AS, 1986).
James Clear menuliskan bahwa orang mengira ketika kita ingin mengubah hidup, kita perlu memikirkan hal-hal besar.
Namun James Clear telah menemukan sebuah cara lain. Ia tahu bahwa perubahan nyata berasal dari efek gabungan ratusan keputusan kecil—dari mengerjakan dua push-up sehari, bangun lima menit lebih awal, sampai menahan sebentar hasrat untuk menelepon.
Ia menyebut semua tadi: atomic habits. Pada bukunya itu, pada hakikatnya Clear mengungkapkan bagaimana perubahan-perubahan sangat remeh ini dapat tumbuh menjadi hasil-hasil yang sangat mengubah hidup.
Perbaikan 1 Persen Pun Berpengaruh Hebat
Perubahan 1 persen dalam satu bulan atau satu pekan akan memberi dampak besar di kemudian hari.
Misalnya, bersiap wudhu lima menit sebelum azan. Toh, saat ini ponsel kita bisa diatur alarm sebelum waktu azan.
Dengan begitu, jeda antara azan dan iqomat kita sudah keadaan bersuci dan bagus jika melafalkan doa. Karena doa di antara azan dan iqomat merupakan waktu yang mustajab/tidak tertolak.
“Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara azan dan iqomah, maka berdoalah (kala itu).” (HR. Ahmad).
Penulis: Oki Aryono