Manusia adalah makhluk sosial. Ia tak bisa hidup sendiri. Manusia selalu membutuhkan orang lain dan selalu berkelompok dengan yang dekat dengannya.
Di antara kebutuhan bersosialisasi adalah membentuk organisasi. Mulai organisasi paling kecil seperti klub hobi hingga paling besar seperti ormas.
Pembentukan organisasi dilakukan karena punya kesamaan tujuan, cita-cita, juga kesamaan aktivitas. Ada yang berupa lembaga non-profit seperti sekolah, panti asuhan, yayasan sosial, masjid dan yayasan keagamaan.
Ada Tutup Meski Pendirinya Masih Ada, Ada Yang Sampai Seratus Tahun
Di sisi lain, perusahaan atau badan usaha juga termasuk organisasi. Orientasinya mengumpulkan laba/profit. Meski hanya didirikan oleh dua orang, badan usaha juga termasuk organisasi yang eksistensinya diakui hukum.
Seperti halnya kehidupan manusia, organisasi juga ada umurnya. Sejak pertama dibentuk dan berkiprah. Lalu ada yang usianya pendek dan ada juga yang panjang.
Ada tiga jenis organisasi terkait usia eksistensinya:
- Organisasi yang terus eksis meski pendirinya telah tiada.
- Organisasi yang ikut mati bersamaan dengan wafatnya sang pendiri.
- Organisasi yang malah tutup meski pendirinya masih ada.
Keberlangsungan sebuah organisasi memang dipengaruhi beberapa faktor. Bisa karena tujuan pembentukannya, bisa juga karena faktor unsur domisili.
Misalnya karena sama-sama merantau di negara lain, lantas membentuk paguyuban/perkumpulan sesama negara asal. Kemudian ketika sudah sama-sama kembali ke tempat asalnya, otomatis organisasi itu pun bubar.
Namun, jika kita perhatikan, bagaimana organisasi bisa eksis puluhan tahun bahkan sampai 100 tahun. Tetap eksis meski pendirinya telah wafat, bahkan makin berkembang.
Setidaknya ada tiga faktor utama bagaimana sebuah organisasi bisa eksis dalam waktu yang lama, bahkan ratusan tahun meskipun pendirinya telah wafat. Kemudian dilanjutkan oleh penerusnya hingga berkembang dan tetap berkiprah.
Ciri Pertama :
Organisasi yang mampu eksis hingga lebih dari 100 tahun tentu saja dibentuk dengan visi jangka panjang. Tujuannya memang jauh ke depan. Bukan untuk kepentingan sesaat.
Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya dibentuk pada 1924 oleh tokoh-tokoh yang bercita-cita untuk mendidik kaum muslimin di Nusantara, saat itu kita belum menjadi NKRI dan masih di bawah kekuasaan Pemerintah kolonial Belanda.
Tujuan Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya (YPAS) saat itu: lembaga pendidikan dengan konsep menerapkan pelajaran Agama Islam berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadits, memberikan pelajaran Bahasa Arab dan ilmu pengetahuan umum yang disusun dalam kurikulum sekolah Al-Irsyad Surabaya.
Visi Misi YPAS Hingga 100 Tahun Dan Akan Terus Berkiprah
Alhamdulillah, hingga lebih dari 100 tahun, lembaga ini terus menyelenggarakan pembelajaran bagi putra-putri muslim di Surabaya.
Dalam perjalanannya, pengurus YPAS melengkapi visi misi lembaga. Untuk lebih lengkapnya, Anda bisa klik tautan tentang: visi-misi-tujuan YPAS.
Dengan misi yang mulia ini dan ditambah kesungguhan para stake holder (pemangku amanah), atas izin Allah lembaga ini fokus pada tujuan dan cita-citanya hingga memasuki usia 100 tahun lebih sampai saat ini.
Ciri Kedua
Tentu saja, di dalam organisasi terdapat beberapa pengurus dan anggota. Bahkan bisa belasan hingga ratusan bahkan ribuan anggota. Dan pengelola organisasi menetapkan aturan demi berjalannya roda manajemen.
Ciri kedua agar berumur panjang adalah adanya aturan yang disepakati lalu ditaati bersama. Tak hanya berlaku pada bawahan/junior, juga bagi atasan/senior.
Sehingga tidak diskriminasi, semua merasa diperlakukan secara proporsial. Adil, sesuai dengan porsinya masing-masing. Tidak pandang bulu, tidak ada yang menzalimi dan tidak ada yang dizalimi.
Teladan Dari Ponpes Gontor Tentang Kepatuhan Asas
Ada teladan istimewa tentang ini dari pengurus Pondok Modern Darussalam Gontor atau PMDG (berdiri 1926). Pendiri PMDG terdiri dari Trimurti: KH. Imam Zarkasyi (1910-1987), KH. Ahmad Sahal (1901-1977), dan KH. Zainuddin Fanani (1908-1967).
Pada perjalanannya, generasi kedua mulai tumbuh dan masuk sebagai santri PMDG. Para putra dari Trimurti pun tetap taat dalam aturan ponpes. Tidak ada perbedaan terhadap santri, entah itu anak kyai ataupun bukan.
Salah satu putra KH. Imam Zarkasyi, yang kini menjadi pengurus/pimpinan PMDG, menuturkan saat ia menjadi santri. Ada aturan bahwa jika ada pelanggaran disiplin, maka salah satu sanksi berupa rambut dicukur habis sampai gundul.
Mulai dari Pimpinan Sampai Anak Kyai Pun Taat Asas
Nah, aturan ini pun berlaku kepada siapapun termasuk anak kyai. Dan putra-putra Trimurti pun pernah merasakan sanksi itu jika memang melanggar kedisiplinan. Tanpa pandang bulu.
Dengan demikian, semua warga ponpes makin respek terhadap pimpinan. Semua mendapat perlakuan yang adil. Tegak tanpa kecuali.
Atas izin Allah, PMDG tetap eksis dan makin berkembang dengan jumlah cabang ponpes yang tersebar di sejumlah provinsi dan meneguhkan misinya dengan transformasi unit pendidikan di dalamnya menjadi Universitas Darussalam (UNIDA) yang begitu megah dan prestisius.
Bersambung ke: Ciri Ketiga : Siapa Sajakah Yang Mampu Mengembangkan Organisasi Hingga Awet?