Jika kita mau merenung sejenak, apa sih misi utama dari pendidikan kita? Dengan bahasa yang sederhana, jawabnya: membentuk manusia dewasa yang dibutuhkan masyarakat.
Segala program di sekolah dan perguruan tinggi harus menyiapkan generasi penerus yang kelak ketika dewasa menjadi sosok yang dibutuhkan masyarakat.
Inilah Kekhawatiran Umumnya Para Orangtua
Mengapa harus jadi orang dibutuhkan? Sebab, jika berkebalikannya maka sungguh suatu keadaan yang mengkhawatirkan bahkan menyusahkan. Jika kelak, anak kita jadi manusia dewasa yang tidak berguna, ini musibah terbesar bagi kita. Naudzubillah.
Orangtua mana yang tidak hancur hatinya jika punya generasi penerus yang saat dewasa ternyata tidak bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Guru mana yang tidak merana jika melihat anak didiknya justru tidak dibutuhkan dan tidak bermanfaat saat mereka dewasa. Wa iyadzu billah.
Jangan sampai kita punya anak kita waktunya malah habis di warkop dengan main game online. Kita sangat khawatir akan hal ini. Dan kekhawatiran ini sudah disinyalkan secara jelas oleh Allah melalui Al Quran.
“Dan hendaknya takut kepada Allah, orang-orang yang meninggalkan di belakang mereka, keturunan yang lemah yang mereka/orangtua khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An Nisa 9).
Poin-poin seperti apa saja yang wajib ada pada generasi penerus yang kelak sehingga dibutuhkan masyarakat. Ada rumusan dengan tiga poin utama berikut ini:
1. Memiliki kompetensi tertentu yang dikuasai
2. Punya karakter yang baik
3. Punya sikap pembelajar sepanjang hidupnya
Inilah spec utama generasi penerus yang kelak akan dibutuhkan masyarakat. Jika ada spec tambahan, maka itu akan melengkapi. Namun, tiga pilar di atas adalah yang utama. Mari kita urai satu per satu.
1. Memiliki kompetensi tertentu yang bermanfaat
Untuk menjelaskan kompetensi seseorang, kita bisa menggunakan ilustrasi seperti berikut ini. Anda bisa memeriksa daftar nama kontak di ponsel Anda. Tidak sedikit yang tertulis profesinya melekat pada namanya. Misalnya Agus Pajak, Imam Service, Sis Sopir, Annisa dokter gigi, dan lain-lain.
Ini membuktikan bahwa tiap orang harus punya kompetensi tertentu yang ia kuasai. Apa pun profesinya, yang penting halal dan penuh dedikasi. Maka itulah jalan pencahariannya. Semoga Allah Swt. memberkahi hasilnya.
Misi sekolah -sejak PAUD hingga SMA sederajat- adalah menyiapkan anak agar siap menerima pendidikan tinggi sesuai dengan bakat tiap anak.
Hal berbeda pada perguruan tinggi dan/atau sekolah kejuruan. Perguruan tinggi adalah wadah untuk menempa keterampilan diri hingga siap mempraktikkannya di masyarakat.
Itulah rute perjalanan seseorang menempa keahliannya. Tanpa kompetensi, seseorang tidak akan mampu menjadi sosok yang dibutuhkan masyarakatnya.
Maka, sinergi guru dan orangtualah yang memastikan kesiapan anak-anak untuk naik ke jenjang pendidikan berikutnya.
2. Punya karakter yang baik
Dalam pendidikan Islam, karakter dibagi menjadi dua bagian besar:
A. Karakter moral
Terdiri dari nilai moral agama dan nilai sosial antara lain tutur kata yang baik, baik, jujur, amanah, tepat janji, santun, bersih, dan lain-lain.
Dalam Islam akhlak dibagi menjadi lima tujuan:
– Akhlak kepada Allah dan Rasulullah
– Akhlak kepada ayah ibu dan para guru/ustadz
– Akhlak kepada diri sendiri
– Akhlak kepada sesama
– Akhlak kepada lingkungan
Jika semua akhlak ini mampu diekspresikan dengan baik, sungguh seseorang mencapai derajat yang mulia.
B. Karakter kinerja
Ini tentang cara seseorang mengamalkan ilmu dan keterampilannya. Misalnya disiplin, rajin, kreatif, tangguh, teliti, dan masih banyak lainnya.
Jangan sampai terjadi ketimpangan antara dua jenis karakter ini. Kompetensi sudah baik, tapi tidak disiplin. Tentu ini merugikan diri sendiri juga orang lain. Akan terjadi kegagalan dalam perjalanan jika terjadi ketimpangan.
3. Punya sikap pembelajar sepanjang hidupnya
Mengapa manusia modern saat ini harus punya sikap mau terus-menerus belajar? Karena, jika enggan jadi pembelajar, maka anak-anak kita akan tertinggal dan sulit beradaptasi dengan perubahan tempat dan zaman.
Bersambung ke bagian dua : Mengapa Harus Jadi Pembelajar Sepanjang Hidup
Penulis: Oki Aryono
*Tulisan ini terinspirasi nasihat Ustadz Dr.(HC).Ir. Abdulkadir Baraja, Ketua Pengurus Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya.