baca bagian 1 : Mencetak Generasi yang Eksistensinya Selalu Dibutuhkan
Mengapa manusia modern saat ini harus punya sikap mau terus-menerus belajar? Karena, jika enggan jadi pembelajar, maka anak-anak kita akan tertinggal dan sulit beradaptasi dengan perubahan tempat dan zaman.
A. Modernisasi berkembang makin cepat
Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak lagi berkembang dalam hitungan dekade, bahkan lebih cepat lagi. Dalam setahun, banyak up-grade iptek. Awalnya ada Artificial Intelligence (AI), kini sudah muncul Superior Intelligence (SI).
Gen Milenial dan Gen yang lebih senior pasti paham, betapa Nokia langsung tergerus oleh ponsel android hanya dalam tiga hingga lima tahun.
Begitu juga ponsel Blackberry, sempat jadi tren dalam tiga sampai lima tahun lalu tergusur dari dunia. Padahal Nokia sempat membanjiri pasar ponsel selama lebih dari satu dekade tahun. Demikian juga Blackberry, sempat booming lalu tergilas oleh teknologi yang jauh lebih smart.
Era disrupsi (penggilasan) begitu cepat. Maka, anak-anak harus kita aliri ‘energi’ pembelajar. Karena perkembangan iptek begitu cepat.
B. Mobilitas manusia makin cepat dan melintasi batas negara
Di era 1990an dan sebelumnya, hanya pejabat dan kaum borju saja yang bisa bepergian jauh dengan pesawat terbang. Kini, makin banyak warga yang sudah bisa bepergian dengan pesawat terbang.
Tak hanya dalam negeri, banyak yang di melancong di negara tetangga atau bahkan lintas benua. Semakin mudah dan murah.
Perbedaan tempat terkadang mengharuskan kita untuk beradaptasi. Tidak selalu tersedia fasilitas sebagaimana di tempat tinggal kita. Tanpa sikap pembelajar, tentu anak-anak kita tidak mengembangkan dirinya ketika berada di tempat baru yang sama sekali berbeda.
C. Kondisi geopolitik dan geososial yang kadang tak terduga dan tiba-tiba
Contoh paling konkret adalah pandemi Covid-19. Datangnya begitu cepat dan mematikan. Beberapa sektor kehidupan tidak sempat beradaptasi, sehingga harus tumbang diterjang wabah yang sangat masif itu.
Kejadian masal dan masif itu harus disikapi dengan sikap adaptif. Sedangkan sikap adaptif lahir lahir dari sikap pembelajar tiada henti.
Peran guru (dan orang tua) harus menanamkan spirit pembelajar kepada anak-anak. Sikap mau terus belajar sepanjang hayat. Punya minat belajar tanpa lihat situasi. Belajar tanpa harus menunggu mau ulangan/ujian/tes.
Penulis: Oki Aryono
*Tulisan ini terinspirasi nasihat Ustadz Dr.(HC).Ir. Abdulkadir Baraja, Ketua Pengurus Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya.
baca berita lainnya : Mengintip Dunia Kampus, SMA Al-Irsyad Ajak Road To Campus