Pernahkah kita berpikir apa ukuran bahwa suatu tugas itu terasa berat? Sejatinya, ringan atau beratnya suatu tugas ditentukan oleh kecil-besarnya risiko berpotensi akan timbul.
Ulrich Beck, Sosiolog asal Jerman (1944-2015), menyatakan bahwa kita semua saat ini adalah masyarakat penuh risiko.
Lebih khusus lagi, lanjut Beck, masyarakat modern sangat tinggi potensi risikonya dibanding era sebelum modernisasi.
Sedikit berbeda dengan pendapat Beck, dalam Islam, mau asyarakat modern maupun sebelumnya (tradisonal; atau praindustri, bahkan manusia zaman dahulu), maka semuanya mendapatkan ujian dari Allah selama mereka hidup di dunia, oleh sebab itu, dunia disebut juga Darul Ibtila’.
Kembali kepada tingginya potensi risiko yang dihadapi oleh masyarakat saat ini, berikut ada beberapa gambaran.
Ilustrasi, Gaji Rp 800 juta/bulan Vs Tanggung Jawabnya
Tingginya potensi risiko, berbanding lurus dengan besarnya tanggung jawab.Kita ambil ilustrasi. Seorang direksi BCA mendapat gaji Rp Rp 841 juta per bulan, belum termasuk saham bonus dan tantiem/bonus lainnya (data 2024).
Tentu dengan gaji sebesar itu sebanding dengan besarnya risiko tugasnya. Aset BCA Aset per semester I/2024 sebesar Rp 1.425,41 triliun.
Berdasar UU Perseroan Terbatas (PT), direksi-lah yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap aset perusahaan di pengadilan maupun luar pengadilan.
Bahkan jika sampai melakukan kesalahan dan berakibat kerugian perusahaan, seorang direksi bisa dituntut sampai harta pribadinya.
Kalau Gedung Roboh, Siapa Bertanggung Jawab?
Ilustrasi lain juga bisa kita gunakan. Jika ada proyek pembangunan jembatan, maka tanggung jawab semua proses proyek ada pada tim perancang.
Maka jika terjadi kerusakan jembatan pascaperesmian sehingga mengakibatkan kecelakaan/kematian, perencana dan timnya pembangun yang harus mempertanggungjawabkannya. Bisa kena denda atau malah hukuman penjara (jika penyebabnya bukan bencana atau sabotase).
Dalam konteks ini kita juga tidak memungkiri adanya faktor X, yakni termasuk pengelolaan dan penggunaan pasca peresmian serta bencana alam.
Artinya, bisa ada bahan dan rancang bangun sudah sangat tepat, tetapi jika penggunaan melebihi kapasitas, maka jika suatu bangunan roboh tentunya hal ini bukan lagi menjadi tanggungjawab tim perancang.
Baru-baru ini ada musibah menimpa bangsa Indonesia. Sebuah gedung ponpes (Al-Khoziny, Sidoarjo) empat lantai roboh saat pembangunan dan di dalamnya ratusan santri sedang shalat. Dan berakibat korban meninggal sampai 67 orang.
Risiko Jadi Orangtua (dan Guru) Dalam Membangun Jiwa Raga Anak
Nah kini kita memikirkan risiko terbesar seorang manusia: siksa neraka. Ya, penderitaan manusia di neraka tak ada batasnya dan tak terperikan pedihnya. Naudzubillah.
Apa yang sedang kita rancang dan kerjakan sekarang sehingga ada risiko neraka jika gagal? Jawabnya adalah anak-anak kita.
Saat ini Allah Swt. telah mengamanahkan kita proyek sangat besar dan sangat berisiko. Jika kita salah perencanaan, tidak hanya orangtua yang menanggung risiko itu. Bisa jadi anak-anak ini ikut menanggung juga.
Bahkan tak menutup kemungkinan masyarakat & bangsa ini ikut menanggungnya pula. Na’udzubillah.
Perencanaan dan detilnya harus punya ketepatan sebagaimana yang perintah Allah dan Rasul. Tak boleh sedikitpun ada kesalahan. Karena waktu kita sangat singkat sedangkan risiko sangat berat. Ya, sangat singkat. Coba kita hitung sejak kapankah Allah memberi beban risiko kepada anak manusia?
Bersambung ke bagian berikutnya: Betapa Singkatnya Durasi Membangun Jiwa Manusia