“Siapa Yang Jadi Pengawas Ujian?”

“Siapa Yang Jadi Pengawas Ujian?”

Start: 06.50

“Ibu menjaga ujian kita sendirian?”

Tanya salah satu siswa ketika melihat Bu Zuli sendirian memasuki ruang ujian sambil memeluk map soal. Bu Zuli tersenyum.

“Nggak…Ibu bersama pengawas lainnya.”

Para murid saling berpandangan. Mereka mengintip melalui jendela, mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dimaksud oleh Bu Zuli.

“Mana Bu? Tidak ada gitu kok…Ibu kok bohong sih?” celetuk Nina, seorang murid yang memang memiliki gaya komunikasi los, kata orang Surabaya. Kalau bahasa kerennya, tanpa filter. Teman-teman sekelasnya sontak memandang dia dengan tatapan tajam

“Hush…adabnya!” bentak Rina, ketua kelas. Dia sangat mengidolakan Bu Zuli, karena Bu Zuli-lah yang mengajarkannya tentang pentingnya shalat dan hormat kepada kedua orangtua.

Memang sih, guru-guru lain juga ada yang mengajarkan hal yang sama, tapi cara Bu Zuli berbeda. Bu Zuli menyentuh perasaan dan logikanya terlebih dahulu sebelum mengajarkan tata cara dan mengawasi disiplin shalatnya.

 “Ish…marah…sekarang mana pengawas yang kata Bu Zuli ada? Mana?” Nina tetap saja membantah teguran yang dilontarkan Rina.

 “Ibu melarang kalian berbohong….masak Ibu juga yang mengajari kalian berbohng?” kata Bu Zuli santai.

“Masih ada sisa waktu 5 menit sebelum ujian dimulai, kalian mau menggunakannya untuk belajar atau langsung kita mulai saja?” tawar Bu Zuli. Rina mengacungkan tangan.

“Ibu, apakah benar ada pengawas lain? Jika iya, kapan dia akan hadir di sini?”

Rina melakukan itu kaena dia percaya bahwa bu Zuli tidak berbohong, dia akan merasa sangat kecewa ketika ternyata Bu Zuli tidak bisa mempertanggungjawabkan ucapannya yang telah didengar oleh teman-teman sekelasnya.

“Biklah…Ibu akan gunakan sedikit waktu untuk menyampaikan apa yang Ibu maksudkan tadi, jika kalian menghendaki demikian. Daripada nanti kalian penasaran dan tidak fokus ujian,” goda Bu Zuli.

“Jika yang kalian maksud pengawas ujian dalam bentuk seseorang atau manusia, maka benar, ibu sendiri. Tapi ada “pengawas-pengawas” yang lain…ada Allah yang Maha Mengawasi atau ar-Raqiib, ada juga dua makhluk yang Allah perintahkan secara langsung untuk mengawasi dan mencatat  segala tindak tanduk kita, yaitu malaikat pencatat amal baik dan amal buruk. Ada CCTV di belakang kalian, dimana kepala sekolah dan orang-orang yang punya akses bisa melihatnya. Tidakkah itu semua cukup untuk menjadi pengawas?”

 Suasana kelas seketika hening.

“Hayo looo…..siapa di sini yang kemarin-kemarin suka gak jujur….ngaku deh…” terdengar ucapan lirih dari murid yang duduk di bangku bagian tengah.

 “Bu, kalau diminta contekan oleh teman, termasuk curang tidak?” lagi-lagi Nina memecah keheningan.

Ta’awanu alal birri wattaqwa…wa laa…ta’awanu alal itsmi wal udwan ‘tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan,” jawab Bu Zuli.

“Lhaaa…..nanti saya malah dimusuhi Bu…”

“Sekarang Ibu tanya, kalian lebih takut dimusuhi teman atau akibat jika melanggar ayat di atas?”

 “Memang apa lanjutannya Bu?”

 “Kalau Ibu sih ngeri…coba yang bawa mushaf terjemahan, tolong dibuka al-Maidah ayat 2.”

“…Wattaqullah: Innallaha syadidul iqoob…artinya: Bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaanNya…ih…beneran ngeri lho Bu.”

Kata Rina sambil melirik Nina. Nina menatap Rina sebal.

“Sudah…yang kemarin terlanjur melakukan, baca istighfar…jangan diulangi lagi. Semoga Allah ampuni,” kata Bu Zuli sambil bersiap untuk membagikan soal karena jam sudah menunjukkan waktu untuk dimulainya ujian.

Sepersekian detik setelah Bu Zuli mengucapkan kalimat tersebut, kalimat istighfar berkumandang dengan sangat keras di kelas tersebut. Bu Zuli melongo…”Jadi?”

———————–

“Bu Zuli, ayo Bu…segera bagikan soalnya….keburu lupa hafalan kita lho…” Nina menyadarkan lamunan Bu Zuli tentang peristiwa tiga hari yang lalu. Bu Zuli segera membagikan soal kepada mereka.

Setelah peristiwa pembahasan “Pengawas” para murid di kelas ini lebih tertib dan tugas guru pengawas menjadi lebih mudah. Karena banyak di antara mereka yang dengan kesadaran sendiri bersikap jujur dalam mengerjakan soal ujian.

“Bekingan Pusat, jangan macam-macam,” bisik Nina kepada teman-temannya saat mereka mencoba untuk saling “berdiskusi”  atau barter jawaban. Bu Zuli tersenyum saja mendengar suara itu.

Tapi di benak Bu Zuli saat ini mulai timbul “sesuatu” yang merasa perlu juga membahas tentang tujuan belajar di kelas ini. Agar para murid tidak lagi belajar saat ujian saja, belajar hanya untuk dihafalkan dan terhapus setelah ujian selesai.

 Menyitir ucapan Abu Abdullah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i atau lebih terkenal dengan sebutan Imam Syafi’i.

 “Ilmu itu bukan yang dihafal, tetapi yang memberi manfaat.”

“Tapi nanti…..sekarang biarkan para murid mengerjakan ujiannya terlebih dahulu. Ketika selesai, baru akan aku sampaikan hal ini,” Bu Zuli ber-solilokui sambil tersenyum memandang wajah para murid satu per satu.

Jam 7.49 koma, belum titik.{}

Cerita Pendek oleh Fitriya Zulianik M.A., Guru SMK Al Irsyad Surabaya

Editor: Oki Aryono

Previous Lowongan Guru PKn (SMK)

Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya

https://culasiantique.gov.ph/

https://www.itlsanjose.edu.co/

https://iau.ae/

https://sjsu.seiyunu.edu.ye/

https://academia.edu.pk/

https://jmmc.mmc.edu.pk/

https://mmc.edu.pk/

https://admission.mmc.edu.pk/

https://ojs.alpa.uy/

hu.edu.ye

odma.od.ua

https://phrir.com/

https://wr-publishing.org/

https://ejournal.poltekbangsby.ac.id/

https://fsb.bau.edu.bd/

https://www.nano-ceramic.com/

Toto 4D

SLOT GACOR

Toto 4D

Toto 4D

toto 4d

Slot Gacor

Toto 4D

Angkasa17

Situsjitu

Simpatitogel

Simpatitogel

Simpatitogel

Simpatitogel

Toto 4D

Situsjitu

https://ijeim.in/

https://someow.com/

Simpatitogel

Situsjitu

Simpatitogel

Angkasa17

Angkasa17

Angkasa17

SimpatiTogel

Angkasa17