Jika yang kita hadapi masih usia kanak-kanak, maka ayah ibu (guru) bisa menggunakan pertanyaan saja. Hal ini dicontohkan Nabi saw saat bercengkrama Abu Umair, balita yang merupakan saudara seibu beda ayah dengan Anas bin Malik.
Ketika Zaid (nama asli Abu Umair) masih balita, ia punya burung piaraan. Saat burung itu mati, ia pun murung dan meratapi burung itu. Lantas, Nabi menghampiri Abu Umair dan berkata, “Wahai Abu Umair, apa yang sedang dilakukan si Nugair (nama burungnya)?”
Interaksi Nabi saw dengan balita ini menunjukkan sikap kasih sayang beliau dan sikap tawadhu. Tidak gengsi untuk bercanda dengan anak-anak di sekitarnya.
Selain itu, beliau bermaksud menghibur hati anak-anak tanpa banyak intervensi yang berlebihan. Itulah bentuk kepekaan Nabi terhadap orang-orang di sekililingnya sekalipun masih balita.
Kesimpulan
- Bagian dari tugas guru
Menjadi tugas seorang guru untuk memperhatikan dan memastikan kesiapan anak didiknya untuk mengikuti KBM dengan diawali mempersiapkan mood yang baik.
- Jika terdapat tanda-tanda mood yang kurang baik, maka guru harus melakukan empat langkah penting:
- Cek kebugaran anak
Memastikan apakah penyebab tidak mood itu karena siswa badannya sedang tidak fit atau karena jiwanya yang sedang terluka.
- Diagnosis dengan tepat
Diagnosis yang tepat akan menentukan tindakan yang tepat, jika diketahui tubuhnya sedang tidak fit, maka siswa bisa diarahkan untuk ke UKS guna mendapatkan penanganan kesehatan.
Namun jika yang terluka adalah jiwanya, maka bisa diarahkan ke UKS atau BK, tempat yang mereka bisa mendapatkan ruang privat untuk mendapatkan ketenangan, namun tetap berada di bawah pengawasan guru meski tidak dilakukan secara terang-terangan.
- Menghormati privasi anak
Saat anak memilih untuk berada di ruang privat dan menghendaki untuk menolak ditemani, maka guru hendaknya menghormati keputusan tersebut, namun tidak lupa meyakinkan kepada siswa bahwa jka ada hal yang dibutuhkan atau bisa dilakukan oleh guru, maka dengan senang hati guru akan melakukannya.
Dalam tahapan ini, guru memberi jaminan kepercayaan kepada siswa bahwa dia berada dalam siatuasi yang aman, jadi tidak perlu ada keraguan atau ketakutan.
Tetap Jaga Adab Islami Dengan Murid Baligh Bukan Mahram
Jaminan ini tidak perlu disampaikan dalam banyak kata, namun bisa cukup dengan mengelus atau menepuk pelan punggung (jika siswa sudah setingkat SD kelas V sampai SMA dan tidak berbeda jenis) sebelum meninggalkan mereka diruangan tersebut.
Namun jika masih setingkat TK sampai kelas IV SD, maka guru yang tidak berbeda jenis bisa sambil memeluknya dan hendaknya guru tetap berada di ruang yang sama.
Jadi Pendengar yang Baik
Ketika siswa sudah merasa tenang dan terlihat sudah mau membuka diri, maka guru bisa masuk dan menjadi pendengar yang baik.
Mendengarkan cerita mereka sampai tuntas, tidak menyela apalagi menghakimi. Memberikan saran atau nasihat dengan cara yang paling tepat (dengan melihat karakter siswa yang bersangkutan, karena terkadang ada siswa yang bisa dinasihati dengan cara bercanda, serius, disentuh hatinya, dll).
Nasihat tetap diberikan, karena terkadang pemberian nasihat yang tepat akan menjadi validasi bagi siswa bahwa kita perhatian dan berempati terhadap masalah yang mereka hadapi.
Dan dalam agama, memberi nasihat juga merupakan kewajiban seorang muslim. Namun sekali lagi, harus dengan cara yang tepat (hikmah).
Guru juga harus tetap menghargai dan memberi ruang bagi siswa untuk menemukan solusi sendiri. Jika solusi yang mereka sampaikan kurang tepat, guru wajib mengarahkan tanpa lupa untuk menunjukkan apresiasinya atas upaya siswa tersebut.
Jika solusi yang siswa temukan sudah tepat, maka guru juga harus menguatkan hal tersebut, sehingga siswa tidak ragu untuk merealisasikan idenya.
Dengan langkah-langkah tersebut, insya Allah tidak hanya siswa akan siap menerima KBM dengan baik, tapi juga akan membentuk bounding antara siswa dan guru, yang pada akhirnya tujuan akhir dari sebuah Pendidikan yakni adanya perubahan sikap ke arah yang lebih baik, akan tercapai. Wallahu a’lam bisshowab.
Penulis: Oki Aryono
Editor: Fitriya Zulianik, MA, Guru SMK Al-Irsyad Surabaya