Bagaimana membangun kebiasaan bersih di sekolah? Dari memulai budaya tertib lingkungan? Membangun karakter dan adab Islami itu butuh durasi yang tidak singkat dan butuh pembiasaan plus keteladanan dari para pendidik dan orangtua.
Misalnya untuk menciptakan kebiasaan menempatkan sampah di keranjang, tidak cukup dengan imbauan perintah atau perintah, namun harus disertai contoh berulang. Bisa sekian pekan bisa sekian bulan bahkan tahunan.
Al-Irsyad Sudah Memulai Hal Baik dan Menjadi Kebiasaan
Al-Irsyad Surabaya telah menjalani proses yang panjang bagaimana membentuk kebiasaan bersih lingkungan sekolah dan bersih diri, mulai para murid, guru, karyawan hingga pimpinan yayasan.
Sekolah yang di bawah naungan Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya ini telah berkiprah sejak 1924. Dan telah meraih predikat lingkungan sekolah terbaik nasional 2016 lalu.
Semua gerakan kebaikan -maupun Gerakan keburukan- berawal dari pikiran. Dan gerakan manusia itu – menurut Al Quran- ada dua macam: baik dan buruk.
Allah berfirman, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan (kefasikan) dan ketaqwaan.” (QS. Asy Syams 8).
Semua gerak manusia bermula dari pikirannya. Dari gerak itulah kemudian menjadi perbuatan, bahkan menjadi kebiasaan.
Proses Suatu Perbuatan Menurut Imam Ibnul Qayyim
Maka proses membentuk kebiasaan baik di sekolah -yang harapannya kebaikan itu berimbas ke rumah- harus melalui sejumlah langkah.
Dan langkah-langkah ini membutuhkan durasi yang singkat dan membutuhkan kesabaran terus-menerus dari guru dan para pendidik.
Para ulama telah menelaah kejiwaan manusia bahwa kebiasaan baik dan kebiasaan buruk itu selalu dimulai dari pikiran dan bisa berkembang jika situasi dan kondisinya mendukung.
Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah (wafat 751 H) dalam Al Fawaid membuat tahapan bagaimana sebuah perbuatan dimulai dan bahkan sebuah kebiasaan.
- Lintasan hati (khatirah)
Ibnul Qayyim Al Jauziyah menyebutnya Al Khatirah. Semua keinginan dan kehendak dimulai dari sini. Dalam Bahasa Indonesia, sampai ada ungkapan: terbersit dalam hati.
Lintasan hati untuk berbuat buruk harus dikendalikan. Ia akan naik level menjadi keinginan. Bahkan ada yang malah memupuknya menjadi keinginan buruk.
Hal yang sama berlaku pada lintasan hati untuk berbuat baik. Justru harus dipupuk agar tidak pupus begitu saja.
Ibnul Qayyim Al Jauziyah membagi Al Khatirah menjadi tiga
- Khatirah rahmaniyah
Seluruh lintasan pikiran yang berisi kebaikan dan hal-hal yang utama. Seperti membuang sampah di keranjang, membersihkan kelas, belajar, shadaqah, amar maruf nahi munkar, dst.
- Khatirah syaithaniyah
Lintasan hati syaitan yang isinya selalu kekejian dan kemungkaran.
- Khatirah nafsaniyah
Ini adalah lintasan pikiran yang terjadi ketika seseorang sedang tidur dan bermimpi.
- Gagasan (fikrah)
Sebelum terjadi, semua niat dan perbuatan terlebih dahulu berupa gagasan. Manusia akan berpikir bagaimana keinginan yang masih berupa lintasan hati bisa terwujud. Itulah yang disebut gagasan.
Ibnul Qayyim Al Jauziyah mengatakan, “Buanglah lintasan pikiran syaithaniyah. Jika tidak engkau buang, ia akan menjadi fikrah. Buanglah fikrah itu, jika tidak, ia akan menjadi himmah (tekad). Buanglah himmah itu, jika tidak, ia akan menjadi amal perilaku. Buanglah perilaku itu, jika tidak, ia akan menjadi kebiasaan buruk.”
Jika yang muncul fikrah baik, maka harus didorong dan dipupuk agar terwujud. Dan perlu perjuangan dan kesabaran tinggi agar menjadi kebiasaan.
Meski itu berupa perbuatan kecil yang baik, itu lebih disukai Allah. “Amal (kebaikan) yang paling dicintai Allah adalah yang rutin meskipun sedikit” (HR Muslim).
Misalnya tiap siswa membawa botol minum (tumblr) sendiri dari rumah. Sehingga tidak perlu menumpuk sampah botol kemasan di sekolah. Sedangkan tugas sekolah menyediakan water station siap minum.
Contoh kedua, merapikan letak sepatu/sandal masing-masing ketika shalat di masjid sekolah. Nampak sepele dan ringan. Tapi jika sudah rutin insya Allah terbiasa rapi.
- Tekad dan niat
Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.”
“Siapa saja yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena mencari dunia dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Allah Maha Penyayang dan menginginkan hambaNya menjadi pribadi yang baik. Allah tidak menilai niat buruk sebagai dosa. Bahkan jika niat buruk itu urung dilakukan, justru mendapat satu pahala. Karena salah satu bentuk kesabaran adalah sabar untuk menahan diri tidak berbuat buruk.
Sebaliknya, jika seseorang baru berniat baik, sudah dicatat sebagai amal kebaikan meski belum diamalkan. Inilah bukti kasih sayang Allah.
bagian 2 “Mari Memulai Hal-hal Baik Agar Jadi Kebiasaan“