Profesi sebagai guru merupakan aktivitas yang sangat mulia, begitu mulianya, sampai-sampai segenap makhluk di darat maupun di laut mendoakan kebaikan bagi para guru.
Didoakan Penduduk Langit, Bumi, Semut dan Ikan di Laut
Rasulullah Muhammad saw menjelaskan, “Sesungguhnya para malaikat, serta semua penduduk langit dan bumi, sampai semut di dalam lubangnya dan ikan (di lautan) benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi).
Guru yang tulus selalu memberi, mulai dari memberi contoh yang baik, memberi ilmu, memberi perhatian hingga memberi doa (mendoakan) anak-anak didiknya.
Sebuah Ilustrasi: Seberapa Mahal Harga Hasil Didikan Guru Jika Dirupiahkan?
Mari kita membuat ilustrasi bahwa guru itu hanya akan memberi, dan tidak berharap materi dari murid-muridnya.
Misalnya guru bernama Pak Ahmad, mengajar banyak murid dan salah satu siswanya bernama Rizki, murid SD kelas 6 putra dari Pak Budi.
Pak Ahmad telah mengajar banyak hal, diantaranya mengaji, shalat dan doa-doa yang baik, kepada Rizki sehingga atas izin Allah, Rizki tumbuh menjadi anak sholih, tekun shalat dan mengaji.
Kemudian ada orangtua, sebut saja namanya Pak Dodo, ayah dari Tomi yang seusia dengan Rizki. Pak Dodo sangat menginginkan kebaikan yang ada pada Rizki bisa ‘dipindahkan’ kepada Tomi.
Pak Dodo ingin agar Pak Budi bisa menukarkan kebaikan Rizki kepada si Tomi berapapun harganya.
Tentu saja, Pak Budi -ayah Rizki- tidak akan menyetujui hal ini (menyerahkan kebaikan Rizki kepada siapapun) berapapun harga yang ditawarkan. Bahkan dengan harga miliaran atau triliunan sekalipun.
Seberapa Bernilai Jasa Guru Kepada Muridnya?
Itulah yang namanya priceless, tak ternilai harganya. Bahwa tiap orangtua sangat menginginkan kebaikan pada anaknya dan itu semua merupakan jasa gurunya.
Ilustrasi di atas hanyalah cerita fiksi, bukan kisah sebenarnya, mengenai betapa mahal hasil didikan guru yang ilmunya sangat bermanfaat dan menjadi kebaikan bagi anak didiknya. Tak ternilai harganya. Tak dapat dinilai dengan harta semahal apapun.
Betapa berharga hasil didik para guru/ustadz seharusnya menjadikan motivasi terbesar para pendidik. Bahwa orientasi menjadi guru/ustadz/pendidik adalah membentuk anak didik yang berakhlakul karimah dan menjadi pribadi yang bermanfaat.
Misi Guru Adalah Misi Kenabian
Karena ini adalah meneruskan misi kenabian, sebagaimana ucapan yang keluar dari lisan Rasulullah Shallalahu alaihi Wasallam yang mulia, ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Inilah yang harus menjadi misi utama para pendidik/guru. Bahwa guru itu memberi kebaikan kepada para muridnya dan kepada lingkungan sekitarnya. Termasuk kepada orangtua/wali murid.
Hak dan Kewajiban, Tak Terpisahkan
Soal gaji/penghasilan, sudah melekat pada jabatan guru di masing-masing lembaga/sekolah tempatnya mengajar. Hak dan kewajiban merupakan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.
Orientasi guru adalah mendidik sebaik mungkin, dan peran lembaga/pemerintah adalah menyediakan supporting system yang layak bagi para guru dan tenaga kependidikan. Tugas para pemangku amanah adalah bagaimana para guru tenang dalam mengajar tanpa dihantui kesulitan ekonomi maupun minimnya fasilitas.
Bagi pemerintah, harus menetapkan standar kompetensi guru yang ketat sekaligus standar remunerasi yang kompetitif sehingga guru menjadi profesi yang bermartabat dan membanggakan secara ekonomi.
Bagi lembaga pendidikan swasta, sangat perlu mengembangkan amal usaha untuk menunjang sekolah dan kesejahteraan guru, contoh dari Ponpes Darussalam Gontor Ponorogo dan Ponpes Sidogiri Pasuruan sangat bagus.
Kedua lembaga pendidikan ini mengembangkan harta wakaf dan unit usaha yang dikelola profesional sehingga menguatkan segenap aktivitas pendidikan, tidak hanya mengandalkan SPP saja.
Mempersiapkan Pahala Yang Tak Ada Habisnya
Kembali kepada misi guru, bahwa sejatinya guru itu selalu memberi. Guru sejati bukan meminta, melainkan justru sebaliknya, mereka tidak akan pelit untuk memberikan apa yang dibutuhkan dalam mendidik para murid.
Bukan meminta dihormati, bukan meminta dihargai, namun jiwa guru adalah memberi kebaikan semampunya kepada anak didik dan orang di sekitarnya.
Bukankah ilmu yang diajarkan itu akan menjadi pahala yang terus mengalir jika diamalkan anak-anak didiknya meski sang guru telah wafat?
“Apabila anak Adam telah wafat, maka terputuslah semua amal perbuatannya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah (yang faidahnya terus-menerus), ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Tulisan ini kita tutup dengan doa, semoga Allah memudahkan para guru dalam menjaga niat mereka ketika akan, sedang dan setelah mengajar. Serta memberi kemudahan dan keberkahan dalam segala urusan dan rezeki yang didapatkan. Hal yang sama juga semoga Allah karuniakan kepada pihak-pihak yang mendukung proses mendidik yang dilakukan oleh para guru.
Wallahu a’lam bisshowab.
Penulis: Oki Aryono
Editor: Fitriya Zulianik, M.A., Guru SMK Al Irsyad Surabaya