Guru dan dosen berpotensi menjadi penulis yang produktif. Tinggal mau berlatih secara berkala. Mau mengasah keterampilan, di tengah kesibukan mengajar. Mau memilih mentor penulis yang bisa membimbing hingga mahir.
Ada banyak sumber dan bahan untuk menulis. Selalu ada inspirasi bagi guru untuk menulis. Berikut ini hal keempat dan kelima yang jadi support system agar guru dan dosen jadi penulis produktif.
Hal keempat
Yang dihadapi guru dan dosen sehari-hari adalah manusia. Meskipun banyak kesamaannya, namun sejatinya tiap manusia itu unik dan istimewa.
Tidak manusia ada yang sama persis. Tak mungkin membandingkan satu murid dengan yang lainnya. Jelas ada keunikkannya masing-masing. Sekalipun itu anak kembar, tetap saja ada ciri khas masing-masing.
Karena itu, akan banyak hal dan juga masalah yang akan muncul di kelas. Dan jika guru bisa mengatasi masalah satu dua siswa itu, maka itu akan menjadi bahan tulisan yang bagus.
Saya pernah mengedit tulisan guru yang menulis tentang salah satu siswanya yang terlihat murung di sekolah. Padahal biasanya, siswi ini biasanya nampak ceria.
Usut punya usut, ternyata siswi ini takut untuk menceritakan hasil nilai ulangannya kepada orangtuanya. Karena hasil ulangannya jeblok. Lantas siswi ini terlihat murung. Bagiamana dia akan menceritakan hal ini kepada ayah ibunya. Dia khawatir dimarahi.
Dari situlah, kemudian Bu guru mendekati siswi ini dan bicara dari hati ke hati. Bu guru juga berkomunikasi dengan orangtuanya. Alhamdulillah, masalah ini bisa dituntaskan dengan mulus. Kisah inilah yang kemudian ditulis sang guru.
Hal kelima
Bagi guru dengan pengalaman lebih dari lima atau sepuluh tahun mengajar di satu sekolah, tentu bisa memunculkan dua kemungkinan: banyak ide atau merasa bosan.
Jangan sampai keadaan yang kedua. Maka, keadaan pertama yang harus ditumbuhkan. Biarkan para guru dan dosen senior ini menyampaikan gagasannya.
Bahkan pihak yayasan atau sekolah/kampus sangat perlu memberi tantangan bagi guru/dosen senior ini untuk menuliskan gagasan dan idenya yang cemerlang.
Berilah ruang bagi mereka ini untuk menuangkan gagasannya. Kalau perlu, jadikan sebagai ketua tim perumus atas usulan-usulannya itu. Karena setiap gagasan, harus siap diuji di ruang diskusi dan ruang praktis.
Guru Yang Mengajar Lebih dari 10 Tahun
Saya pernah mengedit tulisan guru senior di sekolah Yayasan Perguruan Al Irsyad Surabaya (YPAS). Peerguruan ini sudah berdiri sejak sebelum kemerdekaan Indonesia, tepatnya 1924.
Lembaga pendidikan ini punya jenjang mulai Kelompok Bermain, TK, SD, SMP, SMA dan SMK. Seorang guru menulis artikel tentang kesiapan yayasan pendidikan Islam ini harusnya sudah punya perguruan tinggi.
Dengan pengalamannya yang panjang itu, Yayasan Perguruan Al Irsyad Surabaya layak untuk membuka kampus. Karena dengan menulis gagasan ini, ide itu bisa lebih kuat didengungkan. Apalagi banyak alumnus dan walimurid mendukung ide ini.
Tulisan Lebih Kuat Daripada Peluru
Memang ide besar itu idealnya harus ditulis. Sebab, tulisan itu lebih kuat daripada lisan. Bahkan ia lebih kuat daripada senjata. Ide ibarat puzzle, perlu dituangkan dulu agar ditata kemudian bisa diwujudkan menjadi aksi nyata.
Sayyid Quthb, penulis Tafsir Al Quran Fi Dzilalil Quran asal Mesir (1906-1966) menyatakan, “Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala. Sedangkan satu tulisan bisa menembus jutaan kepala.” (bagian 2, habis)
Kembali ke tulisan bagian 1, klik tautan ini: 5 hal yang bisa dijadikan tulisan guru dan dosen
Penulis: Oki Aryono