La Adri, La A’rifuhu | Seni Menjaga Adab Guru Saat Ditanya Murid

La Adri, La A’rifuhu | Seni Menjaga Adab Guru Saat Ditanya Murid

“Ayah, apa yang harus aku lakukan ketika ada anak yang memberikan pertanyaan dan aku tidak bisa menjawabnya?”

 Tanyaku saat ayah menghampiri aku yang sedang termenung di ruang tamu. Pikiranku masih belum bisa move on dari kejadian tadi pagi, ketika ada salah satu muridku yang bertanya tentang suatu permasalahan yang memang kurang aku kuasai.

Begini Akhlak Para Imam Saat Mendapat Pertanyaan

Saat itu, dengan terbata-bata aku mencoba menjawabnya dengan menggunakan bahasa-bahasa yang aku yakin akan sulit untuk dicerna oleh anak-anak sekelas.

Sehingga aku berharap mereka tidak akan meremehkanku dan berpikir bahwa ketidakpahaman mereka karena bahasaku yang terlalu tinggi…Jadi, di mata mereka aku akan tetap terlihat pintar.

Ayah tersenyum mendengar pertanyaanku itu.

 “Kenapa Nak? Apakah sebuah aib jika kita tidak bisa menjawab pertanyaan?”

 “Entahlah Ayah, soalnya aku berpikir kalau guru yang hebat itu harus bisa menjawab semua pertanyaan muridnya.”

Seperti biasa, ayah akan memandangku dengan lembut dan dalam saat kami berbincang, terlebih ketika masuk pada pembicaraan serius.

“Menurutmu, imam empat madzhab itu pengetahuan agamanya seperti apa?”

“Tentu saja mereka memiliki keilmuan yang sangat tinggi, sangat dekat dengan Allah dan dalam berfatwa pasti bukan berdasar pada perasaan, praduga atau perkiraan, tapi berdasar petunjuk dari Allah, meski ada ikhtilafi di antara mereka. Kok Ayah malah  menanyakan mereka? Apa hubungannya dengan pertanyaanku?”

“Keingintahuanmu akan ilmu Ayah syukuri, tapi ketidaksabaranmu dalam mencari sebuah jawaban itu yang harus banyak dilatih,” kata ayah sambil tergelak.

“Baiklah….aku akan coba bersabar….insyaAllah..”

Ayah makin terbahak…

“Kok ayah tertawa?” protesku

“Jadi ingat janji Musa ke Khidir.”

Aku terdiam…astaghfirullohaladziim…akhirnya aku membetulkan posisi dudukku dan memandang ayah dengan serius.

“Baiklah ayah…tolong jelaskan jawaban atas pertanyaanku tadi…ya…” kataku sambil memandang ayah dengan penuh harap.

“Para imam empat madzhab yang memiliki keilmuan tinggi dan bertaqwa kepada Allah, tidak gengsi ketika mengatakan La Adri atau aku tidak tahu saat ada yang bertanya tentang suatu hal yang mereka merasa kurang yakin terhadap jawabannya.”

Ketika Imam Malik Ditanya 40 Soal Sekaligus

Suara ayah pelan, namun ketika mendengarnya tiba-tiba mulutku terbuka.

“Awas kemasukan nyamuk,” kata ibu yang sedari tadi duduk tidak jauh dari kami. Meski sambil melipat baju, ibu ikut menyimak pembicaraan kami.

Aku segera menutup mulut dan tertawa ke arah ibu. “Cukup Namrudz saja yang kemasukan nyamuk, bu…aku jangan.” Ayah dan ibu tertawa mendengarnya. 

“Ketika seseorang yang berilmu tinggi mengatakan la adri, itu adalah bentuk kehati-hatian dalam agama, dan juga menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki sifat tawadhu.”

“Oh….syukurlah kalau begitu…berarti kalau tidak tahu ya sudah, tinggal jawab tidak tahu saja…beres”

Ayah berhenti mengunyah pisang goreng karena tersedak.

“Ya tidak seperti itu….kamu tetap mencari jawabannya dengan membaca, atau bertanya ke orang yang memiliki kemampuan akan hal itu.”

Aku tertawa..”Iya Ayah….iya….siap.”

“Lanjutkan tentang la adri, Ayah…ilmu yang sangat menarik.”

“Ya…La adri itu merupakan tanda kejujuran atau ksatria… kita tidak perlu berbohong hanya untuk  dianggap pintar. Justru orang yang bijaksana, dia tidak akan gegabah dalam mengambil sebuah kesimpulan atau memberi jawaban.”

Aku mengangguk dan kemudian menunduk dalam sambil memejamkan mata, meresapi ucapan yang barusaja ayah lontarkan.

“Mau Ayah ceritakan kisah dari para Imam tentang jawaban La adri yang mereka berikan?”

Aku mengangguk antusias, mataku berbinar dan duduk lebih mendekat ke ayah.

“Ada seseorang yang diminta oleh kaumnya agar menemui Imam Malik, utusan ini menempuh perjalanan selama dua bulan, dengan membawa 40 permasalahan yang titipkan oleh kaumnya untuk disampaikan ke Imam Malik dan hanya dijawab 8 saja.  Sisany hanya dijawab La adri atau aku tidak tahu.”

Utusan tersebut berkata kepada Imam Malik

“Wahai imam, bagaimana jika kaumku bertanya?”

Dengan tenang Imam Malik menjawab

“Katakan kepada mereka, Malik tidak tahu jawabannya.”

“Tapi, bukankah ini masalah yang sepele?” kejarnya.

Mendengar hal itu, wajah Imam Malik memerah dan berkata dengan tegas

“Tidak ada yang sepele perihal agama.”

Utusan dan temannya pun terdiam.

Bersambung ke bagian dua: Inilah Akhlak Imam Bukhari Dalam Merespon dan Mengoreksi

Share Article
Previous Penyakit Ahistoris Bangsa | Belajar Estafet Peradaban Dari Kenabian Hingga Tembok Cina

Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya

https://jurnal.sumutprov.go.id/

https://journals.iarn.or.id/

Slot88

Toto 4D

Toto 4D

https://ijss.pierreonline.uk/

Toto 4D

https://kadinkalsel.org/tentang-kadin/

https://kadinkalsel.id/tentang-kadin/struktur-organisasi/

https://kadinprovjakarta.id/tentang-kadin/

Toto 4D

https://astragraphia.org/id/tentang-kami/dewan-komisaris/

https://globalmedia.journals.ac.za/

https://ejournal.staiat-tahdzib.ac.id/

https://octopusinstitute.org/ojs/

https://www.road-mode.co.uk/

slot88

toto slot

demo slot

toto slot

toto 4d

slot777

https://ojs.incomoza.md/

https://jmsys.org/

https://mirrago.com/

https://utimebilliards.com

https://jhswn.com

https://ijciet.com

https://ijbmla.com/

https://jurnal.pelitaumat.id

https://stanfordgroup.org

https://jsonsiunjani.com/

https://jurnal.yayasanyutapendidikancerdas.com/

situs 4d

slot88

zonatoto

https://clickmandi.com/

https://ijbmla.com/

https://jgmls.com/

https://dlhmedan.org

https://dlhsurabaya.info/

http://dlhbatam.info/

http://dlhsumaterabarat.info/

https://dlhjateng.org/

https://dlhjawabarat.org/

https://dlhpalembang.org

https://dlhmakassar.org/

https://jasaojs.com/

https://jurnalmahupiki.com/

fairtoto

https://dlhkalimantantimur.org

https://dlhpapua.org/

https://jihlss.com/

https://ampzona.store/

https://nomorjepe.com/

https://nomorjepe.com/

https://enasecakery.shop/

https://airvanm.online/