Ada kelemahan bangsa Indonesia yang wajib dikikis sampai habis. Ibarat penyakit yang menggerogoti tubuh, kebiasaan buruk ini harus disembuhkan sampai tuntas dan tidak boleh terus menular ke anak cucu kita.
Kekurangan itu diwakili oleh ungkapan yang cukup populer di masyarakat: ganti menteri, ganti kurikulum.
Jika dimaknai secara mendalam, bahwa setiap ada menteri pendidikan yang baru, selalu mengubah kurikulum pendidikan nasional.
Penyakit Kurang Berterima Kasih Kepada Pendahulu
Yang lebih ekstrem, setiap menteri baru maka akan ‘menghapus’ kurikulum sebelumnya kemudian diganti dengan kurikulum baru.
Maka, kita bisa menyimpulkan, bahwa ini menjadi penyakit bangsa Indonesia: tidak menghargai kebaikan para pendahulu.
Mengapa ini menjadi penyakit? Karena, ini merusak tatanan yang sudah dibangun dengan penuh pengorbanan dari para pendahulu kita. Kebaikan-kebaikan dari kakek nenek kita haruslah dilestarikan bahkan disempurnakan dari waktu ke waktu.
Tanpa kebaikan dari pendahulu, kita bahkan tak bisa apa-apa. Tanpa perjuangan para bapak dan kakek kita, kita tidak akan mampu membangun negeri ini. Oleh karena itu, kita wajib punya menginsyafi diri dengan akhlak sebagai berikut.
Jangan egois
Sebagai pribadi, kita tidak mampu melakukan semua agenda keumatan seorang diri. Kita juga tidak selalu menjadi orang pertama yang mengerjakan proyek keumatan. Pasti semua itu telah dirintis oleh para senior kita.
Kita harus mengakui jasa founding fathers. Kita teruskan kebaikan mereka. Kita tak patut merasa paling berjasa sehingga menonjolkan nama kita dibandingkan kiprah para senior dan para rekan kerja kita.
Jangan sombong
Inilah penyakit hati yang merusak kepribadian seseorang. Sikap sombong menjadi penghalang datangnya kebenaran, Orang sombong pasti meremehkan orang lain dan menolak kebenaran. Sehingga pelaku sombong sulit menerima jalan yang benar.
Disebut sombong yaitu ketika meremehkan jasa orang lain, bahkan menutup mata atas jasa para pendahulu. Tidaklah mungkin manusia bersalah terus-menerus, pasti ada kebaikannya. Dan manusia bijak, kita wajib meneruskan kebaikan para pendahulu yang shalih dan mengambangkannya jadi lebih baik lagi.
Jangan menyimpan dendam
Nyaris tak ada gunanya memunculkan dendam dan membalas keburukan dengan keburukan pula. Jika cita-cita hidup kita mulia, maka berilah maaf terhadap masa lalu. Bangkitlah dengan niat mulia dan memperbaiki masa kini dan masa depan.
Memelihara dendam sama dengan memelihara penyakit. Bukankah orang berakal ingin segera sembuh? Maka, sembuhkanlah luka itu dengan kebaikan dan dengan amal kebajikan di masa hadapan.
Ilustrasi Satu Batu Bata Tentang Nabi Muhammad
Kita sangat paham bahwa Nabi Muhammad saw. dikaruniai sejumlah keistimewaan dibanding para nabi dan rasul lainnya.
Namun justru Rasulullah saw. mengaku hanyalah satu bagian saja dari bangunan peradaban ajaran tauhid dalam sejarah manusia. Nabi saw tidak ‘membangun’ ajaran baru, namun beliau sebagai penyempurna di zaman akhir.
“Sesungguhnya perumpamaanku dengan nabi-nabi sebelumku adalah seperti seseorang yang membangun sebuah rumah lalu ia memperbagus dan memperindahnya, kecuali satu tempat labinah (batu bata) yang berada di pojok rumah itu yang belum terpasang.”
“Lalu manusia mengelilinginya dan mereka terkagum-kagum dengannya sambil berkata, ‘Alangkah baiknya jika labinah ini diletakkan (pada tempatnya.’ Maka, akulah batu bata itu dan aku penutup para nabi.” (HR. Bukhari Muslim).
Belajar Dari Kaidah Fiqih
Al-Muhafazhatu ‘alal qadimis shalih, wal akhdu bil jadidil ashlah ‘Memelihara tradisi/nilai-nilai lama yang baik, dan mengambil hal-hal baru yang jauh lebih baik.
Tugas utama generasi pelanjut adalah melestarikan kebaikan para sesepuh kemudian memanfaatkan kemajuan iptek sehingga tradisi baik di masa lalu makin lebih maslahat.
Inspirasi dari Tembok Besar Cina
Sejatinya Tembok Besar Cina itu adalah benteng pertahanan kekaisaran Cina kuno, bukan sekadar tembok. Tujuannya untuk membendung serangan dari bangsa utara yang sangat ganas dalam bertempur.
Total panjangnya jika ditotal 8.850 km/ Bangunan raksasa ini tidak seluruhnya bersambung, ada jeda di beberapa bagian.
Awal pembangunan tidak langsung memanjang, melainkan bertahap dimulai dari abad 7 SM oleh Kekaisaran zaman Dinasti Qi dan Chu (abad 3 SM). Lalu dilanjutkan oleh Dinasti Qin (abad 2 SM, dan Dinasti Han (abad 1 SM).
Setelah itu pembangunan tembok tidak dilanjutkan karena Kekaisaran Cina sudah memiliki kesatuan militer yang kuat. Setelah 1.300 tahun, Kekaisaran Cina kembali melanjutkan pembangunan tembok besar di masa Dinasti Ming (sejak 1368 hingga 1644 Masehi).
Pembangunan tembok raksasa berlangsung hingga 2 ribu tahun dan dari dinasti ke dinasti. Padahal antardinasti selalu ada persaingan hingga pemberontakan satu sama lain.
Namun dalam urusan pembangunan benteng raksasa itu, mereka saling bersepakat. Generasi pelanjut meneruskan pembangunan tembok yang telah dimulai pendahulunya. Visi itu teruskan dan makin diperkuat dari generasi ke generasi. Cita-cita mereka satu: menjaga negeri.
Penulis: Oki Aryono
Artikel ini terinspirasi dari paparan Ustadz Dr.(HC). Abdulkadir M. Baraja, Ketua Pengurus Yayasan Perguruan Al Irsyad Surabaya.