Siapa yang tak ingin anaknya menjadi bintang kelas? Orangtua mana yang tak ingin anaknya nilai akademiknya tinggi dan bisa kuliah di perguruan tinggi terbaik?
Ayah ibu mana yang tidak ingin anak lulus kuliah secara cumlaude lalu bisa bekerja dengan penghasilan yang tinggi?
Tiap Anak Manusia Punya Dua ‘Sayap’
Tentu saja harapan ini sangatlah wajar. Namun, tiap anak punya dua sayap: aspek akademik dan aspek kepribadian.
Ketika aspek akademik saja yang baik, sedangkan aspek kepribadian kurang terbina, maka sayapnya patah sebelah. Kita khawatir anak kita tak mampu terbang, bahkan ia bisa terjatuh.
Kita bisa mengambil ibrah dari sebuah kisah, betapa urgennya kelengkapan dua sayap karakter ini.
Kisah Nyata Dari Tiga Generasi, Betapa Urgen Kekuatan Dua Sayap
Sebut saja Pak Adi (bukan nama sebenarnya) sebagai generasi I, yang mempunyai putra bernama Wawan (nama samaran) sebagai generasi II.
Keluarga Pak Adi tergolong keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Rumahnya model lawas, separuh dinding rumahnya batu bata dan bagian atasnya masih anyaman bambu yang dilaburi kapur.
Namun, Wawan merupakan anak yang cerdas. Di sekolahnya, Wawan selalu menjadi bintang kelas. Dan ini berlanjut hingga lolos perguruan tinggi dengan mendapat beasiswa karena kecemerlangan studinya.
Selepas kuliah dengan hasil terbaik, Wawan diterima kerja di perusahaan multinasional dengan kantor perwakilan di Jakarta. Gajinya dibayar dengan standar dolar AS. Tentu saja ketika dikonversikan ke rupiah, menjadi sangat besar penghasilannya.
Satu Sayap Yang Begitu Kuat, Apa Itu?
Sejak itu, Wawan pun menunjukkan baktinya kepada kedua orangtuanya. Dia memenuhi segala kebutuhan ayah ibunya. Bahkan, Wawan merombak rumah orangtuanya sehingga lebih baik dan membelikan mobil dan membangunkan garasi.
Merasa menanjak ekonominya karena prestasi sang anak, Pak Adi mengungkapkan kegembiraan ini kepada seorang sahabat karibnya. Bahkan tercetus kalimat dari lisan Pak Adi, “Saya serasa di surga meskipun belum meninggal dunia.”
Dengan rasa bangga, Pak Adi merasakan kenyamanan hidup tersebab prestasi anaknya itu. Tentu saja, hal ini sangat manusiawi. Seorang ayah bangga dengan prestasi tinggi anaknya. Sayap akademik Wawan begitu baik dan begitu kuat.
Seperti lazimnya orang dewasa, Wawan pun menemukan jodohnya dan menikah dengan Yulia (bukan nama sebenarnya). Keduanya dikaruniai seorang putra yang diberi nama Dika (nama rekaan), sebagai generasi III di keluarga besar Pak Adi.
Ikhtisar Generasi
Generasi I: Pak Adi
Generasi II: Wawan
Generasi III: Dika
(Kisah nyata dengan nama-nama yang disamarkan)
Dalam perjalanan rumah tangga Wawan, Allah memberi ujian. Yulia justru lalai dengan perannya sebagai istri dan sebagai istri yang baik.
Keberlimpahan uang membuat Yulia malah asyik plesir dan jalan-jalan. Sedangkan Wawan sibuk dengan pekerjaannya yang sering ke luar kota, bahkan ke luar negeri.
Betapa Rapuhnya Satu Sayap Yang Berujung Petaka
Akibatnya, Dika (generasi III) tumbuh tanpa arahan ayah ibunya. Ayahnya sibuk bekerja di luar kota, ibunya malah sibuk jadi sosialita di kota besar.
Ketika masuk usia remaja, musibah itu terjadi. Dika terjerumus ke kasus narkoba. Naudzubillah. Semoga musibah seperti ini tidak menimpa keluarga kita.
Sejak itu. Keluarga besar Pak Adi seperti terempas angin yang sangat panas. Keluarga Wawan sibuk mengurus masalah memilukan dan memalukan ini.
Habis waktunya untuk mengurus ke kepolisian, kejaksaan, petugas lapas, pengacara, pengadilan, psikolog, dokter, belum lagi jika masih urusan dengan pengedar narkoba memulai masalah pelik ini.
Wawan tak lagi fokus mengurus pekerjaannya, Yulia pun tak sempat lagi berkumpul dengan para bestie-nya.
Generasi I Menangisi Generasi II dan III
Bahkan Pak Adi merasakan kepedihan yang sama. Ia sangat terpukul dengan musibah yang mendera cucunya itu, juga merasakan kepedihan anak dan menantunya.
Semua terimbas. Bahkan sampai-sampai Pak Adi mengubah ungkapannya, “Seperti merasakan neraka meskipun belum waktunya.” Wa iyadzu billah ‘Hanya kepada Allah saja kami memohon perlindungan akan peristiwa seperti ini.’
Prestasi akademik Wawan merupakan satu sayap. Hanya kuat di satu sayap, padahal tiap generasi punya dua sayap yaitu sayap kepribadian.
Ternyata, aspek kepribadian sebagai suami dan sebagai ayah pada diri Wawan tidak sekuat aspek akademiknya.
Rumah dan Sekolah Harus Berkolaborasi Memperkuat Dua Sayap
Satu sayap sangat kuat, namun sisi sayap yang lain sangatlah lemah. Akibatnya, Wawan tak bisa terbang tinggi, yang ada ia justru terjerembab.
Wawan memang pandai sebagai anak dan sebagai individu, namun ia tidak pandai dalam memimpin istri dan membina anaknya. Wawan tak cukup bekal menjadi seorang suami yang baik dan menjadi seorang ayah yang baik.
Bisa jadi ini menjadi tanggung jawab besar pada generasi I. Bagaimana mempersiapkan generasi II agar pandai membangun keluarganya sendiri dan mempersiapkan generasi III agar lebih baik lagi dari generasi sebelumnya. Yang pada akhirnya menjadi warga negara berkualitas.
Jangan sampai terlena dengan satu sayap yang begitu kuat, namun sangat lemah di sayap yang lain.
Kita Selalu Habis-habisan Di Satu Sayap, Mengabaikan Sayap yang Lain
Bahkan di beberapa keluarga, tak cukup dengan penguatan akademik di sekolah, bahkan menambah penguatan akademik di lembaga bimbel dan beragam les, baik privat maupun kelas.
Namun, nyaris tak ada pembekalan yang memadai untuk menjadi calon pemimpin/anggota keluarga yang baik. Hampir tak ada pelajaran menjadi suami/ayah dan istri/ibu yang baik di sekolah, apalagi sampai ada bimbel dalam urusan ini.
Padahal tanpa bekal yang cukup, keluarga kita begitu lemah yang berimbas kepada lemahnya sendi masyarakat dan negara ini.
Mempersiapkan WNI Yang Berkualitas
Dari kisah nyata si atas, kita bisa menyimpulkan dua karakter yang wajib ditanamkan kepada generasi II, generasi III dan seterusnya.
- Penyiapan aspek akademik
Bagaimana pun anak kita harus mampu bersaing di dunia nyata. Tak hanya dengan sesama anak negeri, bahkan mereka harus mampu bersaing di warga negara lain.
Anak kita harus kompetitif di tengah kancah global. Karena, ke depan Indonesia tak hanya diisi oleh WNI saja, bahkan negeri akan kedatangan WNA yang bersaing di negeri ini.
Penyiapan akademik dan iptek harus relate dengan zamannya kelak. Agar mereka tidak terpinggirkan di negerinya sendiri. Kalau perlu, mereka mampu berkompetisi di luar negerinya dan berprestasi tinggi.
- Penyiapan aspek kepribadian dalam keluarga
Kehidupan nyata bermula ketika seseorang sudah baligh. Jika pria dimulai dari mimpi basah, sedangkan wanita bermula ketika sudah haid.
Para orangtua dan pendidik harus mempersiapkan generasi penerus agar kelak mampu menjadi pribadi yang pandai menjadi suami/ayah dan pandai menjadi istri/ibu.
Dan dibuatkan program sejak balig, bisa jadi SD kelas atas (kelas 5 dan 6). Kemudian di SMP dan SMA, ada program keputrian serta kelas putra yang paripurna.
Sejak Puber/Baligh Harus Sudah Dipersiapkan
Bagaimana pun, penguatan aspek kepribadian pra-keluarga patut disiapkan sejak di awal baligh. Mulai dari di rumah, dan dibuatkan program terstruktur di sekolah. Setidaknya dipersiapkan sejak akhir SD hingga SMA, jika memungkinkan dilanjutkan di perguruan tinggi.
Setelah program terbentuk dan dilaksanakan, maka paling penting adalah teladan yang baik. Mulai dari ayah ibu di keluarga hingga para guru di sekolah. Karena, rumus dasar: siapa yang tidak memiliki sesuatu, maka tidak akan bisa memberi.
Penulis: Oki Aryono
*Tulisan ini terinspirasi dari nasihat Ustadz Dr.HC.Ir. Abdul Kadir M. Baradja, Ketua Pengurus YPAS, yang disertai dengan kisah nyata dari seseorang.