Surabaya — Jamaah sholat Jumat Masjid Al-Irsyad Surabaya pada Jumat (30/1/2026) mendapatkan pengingat mendalam tentang hakikat keluarga dalam perspektif iman melalui khutbah yang disampaikan oleh Ustadz Heru Kusumahadi, Lc.
Mengangkat tema Temukanlah Ketenanganmu, khutbah menyoroti kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam sebagai cermin kehidupan keluarga muslim masa kini.
Dalam khutbahnya, khatib mengajak jamaah merenungi dialog antara Nabi Nuh dan Allah ketika banjir besar terjadi.
Naluri seorang ayah membuat Nabi Nuh tetap memanggil putranya agar naik ke kapal keselamatan.
Namun sang putra menolak, hingga akhirnya Allah menegaskan batas antara hubungan darah dan hubungan iman.
Allah berfirman:
وَنَادَىٰ نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ
“Dan Nuh menyeru Tuhannya seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu itu benar, dan Engkau adalah Hakim yang paling adil.’” (QS. Hud 45),
Jawaban Allah menjadi inti pelajaran khutbah:
قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ
“Allah berfirman, ‘Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu. Sesungguhnya perbuatannya tidak baik.’” (QS. Hud: 46)
Ustadz Heru menjelaskan bahwa ayat ini bukan menafikan hubungan biologis, melainkan menegaskan bahwa ikatan iman adalah fondasi keluarga sejati di sisi Allah.
Keluarga yang dibangun tanpa iman hanya terhubung di dunia, sementara keluarga yang disatukan oleh ketaatan memiliki peluang bersatu hingga akhirat.
Khutbah juga menekankan bahwa ketenangan hidup tidak identik dengan kesenangan sesaat.
baca juga : Jangan Hilangkan Sibgah Allah Saat Memaksimalkan Potensi Anak
Ustadz Heru mengingatkan jamaah bahwa manusia sering mengejar definisi bahagia menurut ukuran diri sendiri, padahal ketenangan sejati hanya lahir ketika definisi hidup kita diselaraskan dengan definisi yang Allah tetapkan. Termasuk dalam memaknai keluarga: bukan sekadar kebersamaan lahiriah, tetapi kebersamaan dalam iman dan ketaatan.
Menurut khatib, jika ingin mendapatkan ketenangan dan bukan hanya kesenangan yang sementara, maka seorang muslim harus belajar menyamakan cara pandangnya dengan apa yang Allah kehendaki.
Ketika definisi tentang keluarga, sukses, dan keselamatan mengikuti standar wahyu, di situlah hati menjadi lebih tenang. Jamaah diingatkan untuk terus memperbaiki rumah tangga agar berjalan dalam nilai iman, sehingga hubungan keluarga tidak berhenti di dunia, tetapi berlanjut sebagai jalan menuju keselamatan akhirat.
Penulis: Mohammad Muhajir, ST, Guru SD Al-Irsyad Surabaya
Editor: Oki Aryono