Muslim mana yang tak ingin berkunjung ke Masjidil Haram dan melakukan ibadah umrah dan haji di sana?
Tentu ini menjadi obsesi tertinggi bagi setiap muslim. Namun ini hanya wajib bagi yang mampu saja. Tidak semua muslim mampu menempuh perjalanan ke Tanah Suci.
Hasrat Untuk Menyentuh Kabah
Bagi sudah pernah umrah/haji, rasanya terharu bisa menginjakkan kaki di Masjidil Haram. Bisa melihat langsung Kabah dengan mata kepala. Bahkan bisa tawaf sebagai bagian dari rukun umrah/haji.
Ketika masih berada di Masjidil Haram meski tidak dalam keadaan ihram, sebagai muslim yang tinggalnya jauh dari Mekkah, tentu sangat ingin mendekat bahkan menyentuh Kabah, arah shalat muslim di berbagai penjuru bumi.
Dan keinginan menyentuh, memeluk Kabah dan menciumnya bagian dari sunnah yang dicontohkan Nabi Muhammad saw.
Menurut riwayat shahih, Rasulullah saw pernah menempelkan wajah, dada dan kedua telapak tangan ke dinding Kabah, bagian yang disebut dengan multzam, letaknya antara Hajar Aswad dan Pintu Kabah. Gerakan Nabi itu seperti orang sedang memeluk.
Keinginan Untuk Mencium Hajar Aswad Tapi Sangat Berisiko
Begitu juga dengan sunnah mencium Hajar Aswad, Nabi saw pernah menciumnya. Bagi yang tidak mampu karena berdesakan banyak orang, maka bisa dengan mengusap saja dengan tangan atau cukup hanya melambaikan tangan jarak jauh.
Menyentuh Kabah (Multazam) dan/atau mencium Hajar Aswad bukanlah suatu kewajiban. Apalagi jika kondisinya memang sangat padat dan berbahaya jika memaksakan diri, karena memang ribuan orang berdesakan.
Namun ketika diberi rezeki Allah berumrah 9 tahun silam, alhamdulillah penulis diberi kesempatan oleh Allah bisa mencium Hajar Aswad dengan aman.
Tanpa Motif Imbalan Apapun, Hanya Karena Penasaran
Memang berdesakan namun ada strategi jitu yang diajarkan seorang jamaah senior. Namanya Pak Muhadi, asal Bojonegoro Jawa Timur, usianya sekitar 50an tahun dan masih gagah dan tubuhnya tinggi kekar.
Momen itu terjadi setelah shalat Subuh, sekitar pukul 7 pagi. Sudah masuk waktu Dhuha. Saat itu saya berada di area Tawaf (Mataf), sedang melafalkan zikir-zikir pagi. Lalu disapa Pak Muhadi, kami berkenalan dulu dan saling bercerita keadaan di Tanah Air.
Kemudian Pak Muhadi bertanya, “Sudah cium Hajar Aswad Mas?”
“Belum Pak. Saya gak berani.”
“Ayo ikut saya kalau mau, nanti saya pandu caranya, secara langsung.”
Awalnya saya ragu, karena saat itu Ramadhan dan jamaah umrah sangat padat. Walaupun pagi itu tidak sepadat momen Duhur atau Isya.
Saya pun ikut dengan menata niat sambil membaca zikir keselamatan. Pak Muhadi bilang, misinya adalah meraih tembok tempat tentara penjaga Hajar Aswad berdiri.
Jika sudah bisa meraih tembok itu dan merapatkan diri, maka tinggal bergeser sedikit demi sedikit ke arah Hajar Aswad tanpa melepaskan pegangan ke tembok penjaga. Jadi, bukan merapat ke dinding Kabah Rukun Hajar Aswad, karena pasti berjubel jamaah. Tapi mengarah ke pos penjaga lalu melipir melawan arus selangkah demi selangkah.
Kenangan Yang Sangat Berkesan
Dan benar, setelah sejengkal dengan Hajar Aswad, maka masuk ke ruang cium barulah melepaskan pegangan. Alhamdulillah berhasil, lalu berseru Holas Holas ‘saya selesai saya selesai.’
Sehingga orang di belakang saya bisa menarik tubuh saya untuk keluar, kerena dia juga ingin masuk ke ruang cium itu.
Alhamdulillah, berhasil dengan selamat tanpa cedera dan tanpa mencederai jamaah lain. Meskipun bukan rukun umrah ataupun wajib umrah, bisa mencium Hajar Aswad merupakan suatu kebahagiaan yang tak terlupakan.
Namun, saya tidak menyarankan cara ini kepada siapa pun. Karena keadaan tiap orang bisa berbeda dan sangat riskan jika memaksakan diri, tanpa panduan pembimbing atau muthawif yang andal.
Ingatan Sembilan Tahun Silam Masih Sangat Jelas
Di sini penulis sekadar mengingat dan bercerita, bagaimana kejadian 9 tahun silam masih bisa diceritakan secara detail.
Di sini menekankan bagaimana cara otak menyimpan memori indah dan mudah untuk diceritakan kembali, baik lisan maupun tulisan.
Padahal kenangan ini terjadi 9 tahun yang lalu. Sudah cukup lama untuk diceritakan kembali atau dituliskan.
Cara Kerja Otak Dan Hubungannya Dengan Pembelajaran Deep Learning
Bagaimana kenangan indah bisa awet tersimpan dan gampang diingat sehingga mudah diceritakan kembali?
Inilah kaitannya dengan Pendekatan Deep Learning yang dicetuskan Kemendikdasmen RI 2024-2029.
Menurut Mendikdasmen Abdul Mu’ti, pendekatan pembelajaran Deep Learning dapat tercapai melalui tiga elemen utama, yakni Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning.
Melalui proses Meaningful Learning, siswa dapat memaknai hal-hal yang sedang ia pelajari. Kemudian, melalui proses Mindful Learning, siswa dapat menjadi agen aktif yang secara sadar berniat untuk mengembangkan pemahaman dan kompetensinya.
Proses Joyful Learning membuat siswa menjadi termotivasi dalam menjalani proses pembelajarannya.
Dengan joyful learning, suasana belajar jadi lebih menyenangkan dan berkesan bagi siswa. Sehingga dengan mudah mereka memaknai dan mengingatnya.
Bagaimana cara otak bisa membuka kembali kenangan indah dan menyuguhkannya dalam bentuk perkataan juga dalam bentuk tulisan?
Bersambung ke bagian Dua