Bayangkan situasi ini: lantai mendadak berguncang hebat, pecahan kaca berserakan, dan seorang temanmu tergeletak pingsan di laboratorium dengan luka yang terus mengucur. Di tengah kepanikan itu, apa yang akan kamu lakukan?
Bagi para siswi SMK Al-Irsyad Surabaya, jawabannya bukan lagi diam membeku atau panik.
Pada 7–10 September 2026 lalu, sekolah ini menggelar pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) intensif. Bukan sekadar pengisi waktu atau ekstrakurikuler formalitas, keterampilan ini dibentuk sebagai bekal bertahan hidup.

Tinggal di Indonesia berarti hidup bersisian dengan potensi bencana—mulai dari gempa bumi hingga kecelakaan sehari-hari yang datang tanpa peringatan. Di titik inilah kemampuan P3K bertransformasi dari sekadar “pengetahuan tambahan” menjadi life skill wajib.
Apalagi sebagai sekolah berbasis kesehatan dengan program unggulan Farmasi dan Keperawatan, SMK Al Irsyad Surabaya sadar betul bahwa keberanian dan ketepatan bertindak adalah fondasi utama bagi calon tenaga kesehatan.
Agar ilmu yang didapat benar-benar riil dan aplikatif, sekolah memboyong tiga instruktur yang terbiasa berhadapan langsung dengan situasi gawat darurat:
- M. Mukmin, S.ST (PMI Kota Surabaya)
- Muhammad Putra Setya Pamungkas, S.Kep., Ns. (PMI Kota Surabaya)
- Didik Pamungkas, S.T. (Tim Gerak Cepat Dinas Kesehatan Surabaya)
Lewat kolaborasi PMI dan Dinkes Surabaya ini, suasana kelas jauh dari kata membosankan. Tidak ada adegan duduk manis mencatat teori panjang lebar. Para siswi langsung diajak masuk ke dalam simulasi kejadian nyata.
Setelah menyimak demonstrasi, mereka memeragakan sendiri teknik membalut luka, menghentikan pendarahan hebat, hingga menangani korban pingsan di bawah tekanan waktu.
Lebih dari Sekadar Nilai di Raport, melalui simulasi ini, para siswi tidak cuma pulang membawa angka di lembar penilaian, tetapi tiga bekal krusial:
- Paham prinsip dasar penanganan gawat darurat.
- Terampil melakukan tindakan medis darurat dengan tenang dan benar.
- Peka dan memiliki empati tinggi untuk langsung bergerak saat orang lain membutuhkan.

Dari sudut-sudut ruang kelas SMK Al Irsyad Surabaya, lahir sebuah pesan hangat sekaligus tegas: keberanian untuk menyelamatkan nyawa tidak pernah mengenal gender.
Tangan-tangan muda ini kelak siap menjadi orang pertama yang menghentikan pendarahan, menjaga napas seseorang tetap berembus, dan memberikan harapan di detik-detik paling kritis. Sebab ketika bencana atau musibah datang, yang kita butuhkan bukanlah siapa yang paling hebat, melainkan siapa yang paling siap untuk mengulurkan tangan.

Liputan: Nurul Aida dan Fitrilia (Guru SMK)
Editor: Oki Aryono