Jika kita memperhatikan aliran sungai yang jernih, kita akan menyaksikan banyaknya ikan yang berenang. Dan jarang kita dapati ikan yang hanyut ikut arus. Bisa dipastikan hanya ikan yang mati saja yang terbawa arus.
Ini menjadi pelajaran bagi kita. Ada banyak jenis arus di kehidupan manusia, yang di dalamnya membawa keburukan bagi kita. Kita bisa mengamati sekitar kita, apa saja arus keburukan yang wajib kita hindari.
Arus Kebaikan Vs Arus Keburukan
Gerak hati dan gerak jasmani kita harus punya arah yang benar. Jangan sampai hati kita ‘mati’ sehingga lemah untuk mengarahkan diri ke jalan yang benar.
Benar menurut siapa? Benar menurut Al Quran, Sunnah Rasulullah Muhammad dan benar menurut hukum di negeri ini.
Jika kita jernih memandang beragam arus, kita akan mendapati arus yang tidak baik. Mari kita urai beberapa arus yang musti kita hindari. Kita harus mengarah ke arah yang benar meskipun itu bukan arus utama.
1. Merokok
Berdasarkan data 2025, sebanyak 73,2 persen pria dewasa di Indonesia merupakan perokok aktif. Bahkan WHO menetapkan Indonesia sebagai peringkat pertama negara di dunia dengan jumlah perokok aktif.
Sebuah arus buruk yang harus kita lawan. Bukankah jumlah 73,2 persen menjadi jumlah mayoritas di negeri ini. Apakah para perokok itu tidak mampu membaca peringatan bahaya merokok pada kemasan dan reklame rokok?
Bagaimana mungkin zat yang penuh racun dan membahayakan kesehatan malah jadi konsumsi setiap harinya? Bahkan BPS mencatat, belanja rokok pada keluarga menengah bawah mengalahkan konsumsi bahan pangan bergizi seperti telur, daging dan susu. Sebuah fakta yang menjungkirbalikkan akal sehat.
Jika Anda dan anak-anak kita bisa melawan arus ini, insya Allah Anda termasuk kaum tak terbawa arus merusak ini.
2. Bicara kotor & mengumpat, terutama saat bermain game online
Jika Anda duduk agak lama di sebagian besar warkop, akan banyak mendapati pengunjung yang asyik main game online. Banyak yang mabar (main bareng) di warkop. Sebagian besar orang muda.
Main game memang mengasyikkan sekaligus menegangkan. Nah, ketika momen seru lalu kalah atau kaget, acapkali terdengar umpatan dan kata-kata kotor. Ucapan yang tak pantas didengar. Tdiak remaja, tidak pula orang dewasa, banyak sekali yang spontan berucap kotor atau kasar.
Saya menduga, bicara kotor seperti ini sudah sangat sering. Tidak sekali dua kali. Sudah jadi kebiasaan dan akan lebih sulit dihilangkan.
Padahal, di antara ciri orang beriman adalah bicara yang baik. “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim).
Bersambung ke bagian II: Arus Deras Yang Menyeret Kepada Keburukan
Arus Deras Yang Menyeret Kepada Keburukan
3. Pacaran
Masih banyak konten pacaran di beragam media sosial. Video kemesraan pemuda berpacaran bersliweran di platform digital. Anda akan mendapati konten pacaran di TikTok, YouTube, Instagram dan Facebook.
Fenomena pacaran di kalangan anak muda sudah dianggap wajar, apalagi jika orangtuanya tidak mengingatkan bahwa pacaran adalah cara tidak halal antara pria dan wanita. Bahwa berduaan antara pria dan wanita bukan mahramnya adalah dosa dan mendekati perbuatan zina.
Ketika pacaran marak, maka kita harus menjaga putra-putri kita agar tidak ikut arus ini. Interaksi pria dan wanita harus ada batas yang tegas. Islam telah mengatur tata cara perkenalan/taaruf jika memang sudah siap untuk sama-sama menikah.
Jika belum siap menikah, maka hendaknya pemuda-pemudi harus sibuk dengan aktivitas produktif dan positif. Pacaran hanya membawa mudharat dan menghabiskan waktu yang justru mendekatkan pada perbuatan dosa/maksiat.
4. Sikap manipulatif, khianat dan koruptif hampir di semua sendi kehidupan berbangsa
Pembobolan nomor WhatsApp masih marak terjadi. Baru-baru ini nomor WA rektor PTN di Surabaya (periode sebelumnya) diretas dan meminta sejumlah uang ke banyak nomor kontaknya. Seorang pengusaha rental mobil juga demikian.
Akun Facebook juga sering jadi ajang penipuan online. Bahkan terbaru, putra saya yang masih SMK diperas dengan modus: foto-foto di Instagram-nya diedit menjadi pornografi dengan teknologi AI. Sang pemeras meminta uang ratusan ribu rupiah jika tak mau foto-foto fiktif itu tersebar.
PR Besar Itu Bernama Praktik Korup
Jika di level pejabat marak praktik manipulatif, di level rakyat jelata pun arus khianat pun merata di banyak bidang.
Skor Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia pada 2026 berada di angka 34 dari skala 0 (sangat korup) hingga 100 (sangat bersih).
Skor Indonesia mengalami penurunan sebanyak 3 poin dari tahun sebelumnya yang berada di angka 37. Posisi Indonesia merosot 10 peringkat, dari peringkat 99 ke peringkat 109 secara global (sumber: antikorupsi.org, dalam artikel: Skor CPI Indonesia Jeblok di Tahun 2025, ICW: Ekosistem Pemberantasan Korupsi Dirusak Total oleh Pemerintahan Prabowo-Gibran, tayang 10-2-2026).
Atas Bawah, Ada Arus Curang
Dalam praktiknya, di lingkungan sekolah/kuliah, masih saja ada joki di ajang UTBK. Di sektor swasta, sogok-menyogok dan praktik dokumen fiktif pun juga marak. Modus: kuitansi ganda, mark up, dan gratifikasi di semua sektor.
Yang paling busuk bukan gratifikasi uang, namun sudah sampai pada ‘suap’ berupa prostitusi/pelacuran demi memuluskan negosiasi/tender proyek tertentu. Naudzubillah.
Di kalangan petani pun, praktik khianat dengan modus sogokan pun sudah lazim. Penulis menemukan fakta, petani tembakau di pantura harus menyogok mandor gudang pabrik rokok agar menyegerakan pembayarannya.
5. Main serobot dan mementingkan ego
Potret paling nyata adalah di jalanan. Ketika di pintu perlintasan KA, semua merangsek ke depan meskipun bukan jalurnya. Di persimpangan jalan tanpa lampu traffic light (TL), pasti saling serobot.
Suatu ketika penulis dan putra yang masih TK berada di kepadatan persimpangan jalan pedesaan yang sangat padat dengan motor roda dua. Penulis tetap di jalurnya meski banyak yang nyelonong di jalur yang berlawanan.
Dengan polosnya, putra saya bertanya, “Mengapa ayah tidak ikut-ikutan ke arus berlawanan seperti orang-orang itu?”
Saya menjelaskan bahwa itu tindakan salah dan berbahaya. “Kamu harus tetap di jalur yang benar meskipun harus antri panjang dan lama”
Teladan Ortu-Guru Jadi ‘Imunisasi’
Bagaimana pun, orang sabar dan orang benar akan mendapat pertolongan Allah. “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah 119).
Banyak arus yang tidak benar. Maka orang beriman mengacu pada: Al Quran, sunnah Rasulullah saw dan ulul amri yang bersesuaian dengan Dinul Islam.
Tugas pendidik dan orangtua, menyuntikkan imunitas kepada anak-anak kita agar mereka kebal terhadap virus kebatilan.
Pendidikan dan keteladanan guru dan ayah-ibu menjadi tenaga kuat bagi anak dalam mengarungi arus kebenaran, meski berbeda dengan arus utama yang merusak.
Tak Mau Ikut Arus Bukanlah Sikap Penakut
Melawan arus besar ke arah keburukan bukanlah sikap pengecut. Justru ia berani menentang arus yang merusak. Pada hakikatnya, kebanyakan manusia itu jauh dari jalan Allah.
“Dan jika kalian menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah…” (QS. Al An’am 116).
Penulis: Oki Aryono
baca artikel lainnya : Semua Ingin Anaknya Pintar Tapi Siapa Yang Mau Anaknya Jadi WNI Berkualitas?