Dosen saya pernah berkata dengan nada setengah mengancam meskipun bercanda: kelak kalau sudah lulus dan suatu saat bertemu saya, awas kalau kalian tidak menyapa saya. Jangan menghindar, saya pasti kenal wajahmu meskipun saya lupa namamu.
Seisi kelas pun tergelak. Candaan itu sudah berlalu 25 tahun yang lalu. Namun, kesan itu mendalam di hati kami. Bahwa para guru/dosen punya kesan tersendiri di hati peserta didik.
Penduduk Langit dan Bumi Mendoakan Guru
Menjadi guru itu suatu kemuliaan, bukan sekadar profesi, bukan sekadar pekerjaan. Bahkan penghuni langit hingga ikan-ikan di laut mendoakan manusia yang mengajarkan kebaikan.
“Sesungguhnya Allah, malaikat serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan di lautan bershalawat/mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi).
Kemuliaan para guru/dosen yang tulus tidak hanya di hadapan manusia, namun di hadapan Allah malaikat hingga makhluk kecil seperti semut dan ikan. Tentu doa itu caranya berbeda-beda,tidak sama dengan cara berdoa manusia.
Bagi Allah bukan mendoakan, namun maknanya: Allah memberi rahmatNya dan memberi perlindungan dan melimpahkan kebaikan kepada guru-guru yang tulus mengajar. Guru yang tulus sangat berharap bahwa ilmunya terus bermanfaat sehingga Allah melimpahkan kebaikan yang terus-menerus pula.
Bukankah ilmu yang bermanfaat menjadi kebaikan yang terus mengalir kepada sang guru meskipun ia telah wafat.
Pahala Yang tak Pernah Putus
Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “Apabila anak Adam itu mati, maka terputuslah amalnya, kecuali (amal) dari tiga ini: sedekah yang berlaku terus-menerus digunakan faedahnya, ilmu pengetahuan yang terus dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakan dia.” (HR Muslim).
Selain kemuliaan di atas, intensitas tatap muka antara guru dan peserta didik berlangsung terus-menerus sepanjang tahun melahirkan ikatan emosi dan ikatan batin yang begitu kuat.
Intensitas itu bahkan bisa lebih dari setahun pada jenjang pendidikan tertentu dan di lembaga pendidikan seperti pondok pesantren.
Puncaknya: Saling Mendoakan
Dari yang awalnya interaksi visual bahkan bisa jadi menjadi ikatan batin dan ikatan emosional. Berangkat dari intensitas yang erat itulah kemudian terjadi ikatan yang kuat dan memori yang mendalam.
Puncak ikatan itu: guru senantiasa mendoakan kebaikan bagi peserta didiknya, tak hanya ketika masih dalam masa didikan namun juga ketika sudah lulus. Begitu pula murid yang baik, selalu mendoakan kebaikan bagi guru-gurunya dimana pun mereka berada.
Ada empat momen paling membahagiakan bagi guru terhadap murid-muridnya. Yaitu:
1. Suatu kebahagiaan guru ketika murid mampu menguasai ilmu yang diajarkan secara baik
Peran paling besar dari guru adalah mengajarkan ilmu kepada muridnya. Semakin baik penguasaan ilmu sang murid, maka di sanalah puncak prestasi sang guru.
Setiap guru punya target bahwa setiap muridnya bisa menguasai pelajaran dengan baik. Ada yang menggunakan strategi tambahan, tidak melulu guru yang menjelaskan sebuah kesulitan. Misalnya guru memberdayakan murid yang sudah mahir agar mengajarkan kepada rekannya belum mahir, begitu seterusnya.
Dan puncak kebahagiaan guru ketika setiap murid mampu memahami dan menyelesaikan masalah terkait bidang studi yang diajarkan.
2. Guru sangat senang jika muridnya lebih baik daripada sang guru
Tidak hanya senang kalau muridnya memahami pelajaran, bahkan kebahagiaan guru makin sempurna ketika pada akhirnya sang murid jauh lebih lebih tinggi prestasinya daripada sang guru.
Misalnya, ada murid yang mampu meraih medali emas di olimpiade tingkat nasional bahkan tingkat internasional. Di situlah guru merasa bangga.
3. Suatu kebahagiaan ketika murid menyapa guru meskipun sudah bertahun-tahun lulus.
Menyapa guru di luar sekolah bahkan setelah bertahun-tahun lulus dari sekolah merupakan adab mulia dari para murid.
Rasanya senang sekali bisa disapa murid yang telah lulus meskipun jauh setelah lulus, tak hanya setahun dua tahun kemudian, bisa jadi belasan dan puluhan tahun kemudian.
Karena, bisa jadi guru sudah lupa dengan muridnya karena tiap tahun selalu bertemu dengan murid baru. Namun, bagi murid, wajah guru selalu terkenang meskipun nampak sudah sepuh karena lama tak bertemu.
Pertemuan guru dengan murid setelah lulus tidak hanya di dunia nyata, namun kini bisa terjadi di dunia online. Penulis merasakan hal ini.
Tak Menyangka, Ilmu Sederhana Malah Jadi Anugerah Besar
Suatu hari, kolom chat Facebook saya mendapat pesan masuk dari seseorang. Saya lupa siapa dia. Lalu dia mengingatkan saya bahwa dia dulunya murid SMK yang magang di kantor tempat saya bekerja. Tak lupa dia juga mengucapkan terima kasih bahwa sudah memberi keterampilan penting.
Saya lupa, keterampilan apa itu? Karena hanya magang sebulan. Dan saya juga bukan guru di sekolah. Ternyata dia mengaku penugasan dari saya waktu magang kini sangat bermanfaat bagi pekerjaannya.
Waktu magang, saya memberinya tugas sederhana menurut saya: menyalin beberapa sub-bab dari buku ke file doc di komputer. Hanya tugas mengetik. Tidak satu buku, tapi banyak buku, meski yang dpilih hanya sub-bab, bukan satu bab utuh. Ketikan itu nantinya menjadi bahan tulisan di majalah tempat saya bekerja dahulu.
Ternyata tugas mengetik itu menjadi modal besar bagi anak magang itu setelah dia bekerja. Saat ini, kerjanya hanya mengetik dan kemampuan mengetiknya begitu lincah dan produktif. Ini menjadi keterampilan penting bagi ia dan tempatnya bekerja.
Alhamdulillahi robbil alamin. Sungguh di luar perkiraan saya. Hanya tugas sederhana ternyata jadi ilmu yang sangat bermanfaat.
4. Guru sangat bangga kalau muridnya sudah berkiprah di tengah masyarakat
Ketika menyaksikan murid yang dulu kita bimbing kini menjadi sosok yang sudah berkiprah di tengah masyarakat, tentu menjadi kebanggaan setiap guru.
Tak peduli apapun profesi mereka, jika mereka menjadi sosok yang sangat dibutuhkan keluarga dan masyarakatnya sudah cukup membuat pata guru bangga.
Penulis: Oki Aryono